‪BPBD Majalengka Pastikan Ambruknya Gedung SDN 2 Cikidang Bukan Bencana Alam

MAJALENGKA (CT) – Tragedi robohnya gedung SDN 2 Cikidang Kecamatan Bantarujeg dipastikan bukan merupakan peristiwa yang disebabkan oleh bencana alam. Hal ini sebagaimana dipastikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.‬

‪Kepala pelaksana BPBD Majalengka Tatang Rahmat SH melalui Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wawan Sarwanto ST MH menjelaskan, dari hasil pemantauan langsung pihaknya ke lokasi sekolah, disimpulkan jika peristiwa yang terjadi pada senin sore tersebut, bukan merupakan peristiwa bencana alam.‬

‪”Kami pastikan itu bukan bencana alam, karena dari hasil observasi langsung kita di lapangan, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan peristiwa tersebut karena faktor alam. Serta diduga penyebabnya karena faktor ketidaksesuaian konstruksi bangunan,” ujar dia, Rabu (02/09).‬

‪Menurutnya, dari ciri-ciri khusus jika peristiwa robohnya bangunan diakibatkan bencana alam, biasanya disertai longsoran, pergerakan tanah, maupun faktor alam lainnya. Sedangkan di lokasi kejadian pihaknya tidak menemukan adanya tanda-tanda bencana alam dalam radius belasan meter dari lokasi tersebut.‬

‪Dengan demikian, pihaknya tidak akan mendatangkan badan geologi untuk mendeteksi kondisi tanah. Berbeda dengan peristiwa robohnya banguan sekolah SMPN 7 Majalengka tahun lalu, dimana di sekitarnya terdapat retakan dan amblasan tanah, sehingga perlu penelitian geologi untuk memastikan kestabilan struktur tanahnya.‬

‪Dijelaskan, kesimpulan pihaknya kejadian ini diakibatkan kondisi pondasi bangunan yang tidak kuat, bangunan ruang kelas tersebut berdiri di atas pondasi lama yang menggunakan pondasi rollag bata merah. Pada saat rehabilitasi ruang kelas tahun 2011, pihak pelaksana diduga tidak membongkar pondasi lama, tetapi hanya dengan menyuntikan sloof beton di atas pondasi rollag bata merah tanpa mengakikatkan pada pondasi batu.‬

‪”Bahkan sepertinya tidak dibuat beton cakar ayam. Akibat terpisahnya antara badan bangunan dengan pondasi yang ada, maka secara langsung beban berat badang bangunan yang tidak mengikat atau menyatu dengan pondasinya lama kelamaan akan terlepas, dan akhirnya terjadi kejadian ambruknya bangunan sekolah tersebut,” paparnya.‬

‪Sementara itu, penanganan penanggulangan darurat kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi 27 siswa dari 3 kelas pada sekolah tersebut utuk sementara dilakukan di ruang perpustakaan, serta meminjam gedung madrasah di sekitar lokasi terdekat. Sehingga, KBM siswa bisa terus berlanjut dan tidak terganggu dengan tragedi ambruknya ruang kelas mereka.‬

‪”Kami juga menyarankan kepada Dinas Pendidikan, aabila akan dilakukan pembangunan ruang kelas baru, sebaiknya tidak menggunakan lokasi awal, mengingat pada lokasi tersebut berbatasan dengan tanah yang kondisinya curam. Misalnya, bisa menggunakan halaman sekolah yang berhadapan dengan ruang kelas lain yang kondisi tanahnya relatif datar dan strukturnya lebih kuat,” imbuhnya. (Abduh)

2604 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*