Baru Pertama Terjadi, Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung Berlangsung Dua Kali

Majalengkatrust.com – Kejadian unik dan bersejarah tergambar ketika tradisi adat yang sudah berlangsung ratusan tahun, yaitu Nyiramkeun (mencuci, red) benda-benda pusaka Kerajaan Talaga Manggung, di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka berlangsung dua kali, pertama dilakukan Senin (14/11) dan yang kedua, Rabu (16/11).
c-talagajeh1
“Intinya (nyiramkeun yang kedua, red) silaturahmi bukan persaingan atau yang lain-lain,” kata Penanggungjawab Nyiramkeun yang berlangsung Rabu (16/11), Yuyun M. Yunus yang juga keluarga keturunan Kerajaan Talaga Manggung saat ditemui sejumlah wartawan seusai acara Nyiramkeun.

Alasan lainnya, lanjut Mang Yuyun sapaan akrabnya karena dinilainya ada perubahan tradisi dan adat yang dilakukan dalam Nyiramkeun yang berlangsung, Senin (14/11) lalu.

“Perubahan tradisi itu, biasanya Nyiramkeun di sebelah selatan Museum atau dulu bumi alit, yang kemarin dilakukan di sebelah utara museum,” jelas Mang Yuyun.

Kemudian perubahan adat atau tradisi yang lainnya, lanjut Mang Yuyun yaitu waktu kirab benda-benda pusaka, yang filosofisnya biasanya dari pemerintahan saat ini, yaitu Pemerintah Kecamatan atau Camat menyerahkan benda-benda pusaka kepada keluarga (kerajaan Talaga Manggung-red).

“Kemarin sama panitia dilakukan benda-benda pusaka dikeluarkan dari Museum terus dikirab, kemudian dimasukan lagi ke museum,” ungkap Mang Yuyun.

Selain itu, kata Mang Yuyun sewaktu Nyiramkeun, Senin (14/11) lalu dianggapnya banyak adat dari luar yang diadopsi yang bukan adat asli Talaga.

“Seperti ada umbul-umbul dari haseupan dan boboko, setahu saya itu adopsi dari Purwakarta, yang asli Talaga itu janur dari pohon Kawung,” ungkap Mang Yuyun.

Sementara itu dalam acara Nyiramkeun benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung edisi kedua, Rabu (16/11), menurut Mang Yuyun merupakan Nyiramkeun benda-benda pusaka yang sebelumnya tidak ikut disiramkan pada, Senin (14/11) yang dipegang anak cucu keturunan Talaga Manggung.

“Di antaranya keris, tombak, kujang dan lainnya kurang lebih 30 buah,” jelas Mang Yuyun.

Sedangkan goong renteng dan lainnya, lanjut Mang Yuyun sudah disiramkan, Senin (14/11) oleh keluarga bibinya Padnalarang di areal Museum sebelumnya.

Ketika disinggung kenapa memilih hari Rabu saat Nyiramkeun, Mang Yuyun mengakui tradisinya Nyiramkeun itu di hari Senin bulan Safar tanggal belasan ganjil.

“Milih Rabu Kliwon di bulan Safar berpatokan mitosna berdirinya Kerajaan Talaga pada hari Rabu walau bukan fakta akademis sejarah yang ilmiah,” ungkap Mang Yuyun.

Pihak keluarga yang lain, Ace Pramiadi menambahkan alasan dilakukan “Nyiramkeun” kembali karena ada beberapa pakem yang dihilangkan.

“Acara Nyiramkeun ini sebetulnya acara keluarga, tapi tidak dikonsultasikan kepada keluarga yang lain, satu keturunan juga beda paham ada yang ingin pakai hadoroh dan ada yang ingin hadoroh dihilangkan dan lainnya seperti diungkapkan Mang Yuyun sebelumnya,” ungkap Ace. (Abduh)

4167 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*