Biaya di PTN Dianggap Mahal, Sejumlah Orang Tua Mahasiswa Pilih PTS

MAJALENGKA (CT) – Mahalnya biaya kuliah masih menjadi momok bagi banyak orangtua. Akhirnya, banyak siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) terpaksa tidak melanjutkan studi karena keterbatasan ekonomi.

Salah satu solusi masalah ini adalah skema sekolah ikatan dinas. Orangtua mahasiswa ikatan dinas tidak perlu dipusingkan dengan keharusan membayar biaya kuliah tiap semester bahkan si anak akan mendapatkan “gaji” bulanan dan kepastian pekerjaan setelah lulus.

Fasilitas inilah yang memembuat Ade warga Kelurahan Cijati Majalengka yang mendukung keputusan anaknya, Muhammad Dian, untuk mengambil studi di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Dian, kata Ade, sebenarnya diterima di jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 lalu.

“Antusiasme Dian untuk meringankan beban orangtua lebih tinggi ketimbang mengambil kuliah di satu jurusan tertentu. Akhirnya, setelah pembicaraan antara orangtua dan anak, Dian pun mantap kuliah di STIS,” tutur Ade, Jumat (10/07).

Ade selalu membebaskan anak-anaknya untuk memilih bidang studi dan kampus sebagai tempat kuliahnya. Status ikatan dinas, kata Ade, memang menjadi pertimbangan Dian ketika menjalani tes di STIS.

“Sebenarnya saya melihat, anak saya bisa lebih berkembang di lingkup universitas ketimbang di sekolah dengan spesifikasi ilmu tertentu. Mungkin ini karena saya juga tidak paham betul lingkup ilmu statistik seperti apa. Tapi yang jelas, kuliah di STIS memang meringakan beban biaya kuliah orangtua,” paparnya.

Ade selalu menekankan agar anak-anaknya belajar dan memikirkan cara masuk kampus pilihan mereka. Soal biaya, itu urusannya sebagai orangtua.  Menurutnya, besaran biaya kuliah itu memang relatif. Ada yang bilang kecil, ada yang bilang terjangkau. Ade mengaku, uang kuliah sang kakak yang mencapai sekira Rp.7 juta per semester harus diperjuangkan betul-betul.

“Beruntung, si kakak ini mampu mempertahankan IPK di atas tiga sehingga bisa mendapatkan beasiswa,” ujar Ade.

“Sebagian orang memang belum beruntung dalam perekonomian. Tetapi, saya rasa kalau orangtua enggak pesimistis, maka anaknya pun bisa maju. Selain itu, jika si anak memiliki prestasi dan nilai akademik yang baik, banyak kok donatur yang mau memberikan beasiswa,” ungkapnya. (Abduh)

1896 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*