BPBD Kab. Majalengka Gelar Pendampingan Sosial di Wilayah Pasca-Bencana

Majalengkatrust.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka menggelar pendampingan sosial di wilayah pasca-bencana tahap II Tahun 2016 dan Focus Group Discussion (FGD) Exit Strategy 2017-2019, bekerjasama dengan PT. Multidecon Internal di aula Kokardan Jalan Gerakan Koperasi Majalengka, Rabu (08/09) kemarin.

Kegiatan dihadiri Uju Juhara, Pendamping Sosial Pasca Bencana, Sutanto, Kepala Sub Direktorat BNPB Pusat, Komar, Kasi Rehabilitasi BPBD Provinsi Jawa Barat, dan Tatang Rahmat, SH, Kepala Pelaksana BPBD Kab. Majalengka, serta dinas-dinas pemangku kepentingan yang terkait penanggulangan bencana.

“Kegiatan ini digelar guna menentukan langkah ke depan yang akan dilakukan untuk tiga tahun, dimana penduduk di daerah pasca-bencana dapat meneruskan kehidupan sosialnya, seperti sebelum terjadinya bencana,” kata Pendamping Sosial Pasca-Bencana, Uju Juhara.

Menurut dia, kegiatan ini diharapkan menghasilkan exit strategy yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan berjalannya pendampingan sosial, guna meningkatkan kehidupan sosial di wilayah pasca-bencana.

“Yang meliputi kenyamanan masyarakat dan unsur-unsur sosial budaya, psiko sosial kolektif, serta berjalannya kembali kearifan lokal dan berfungsinya kembali pelayanan sosial di wilayah pasca-bencana,” ungkap Uju Juhara.

Targetnya, lanjut dia, membangun kesadaran penduduk untuk memulikan kembali kehidupan sosial setelah terjadinya bencana, dan melibatkan secara aktif peran penduduk dalam penentuan kegiatan pendampingan, sehingga kegiatan tersebut akan sesuai dengan apa yang dibutuhkan penduduk.

Sementara itu, Tatang Rahmat, SH, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka mengatakan, bahwa di Kabupaten Majalengka telah dipasang alat deteksi bencana pergerakan tanah di dua desa, diantaranya desa Sidamukti Kecamatan Majalengka Kota dan Gunung Anten Kecamatan Malausma.

“Kabupaten Majalengka saat ini peringkat 16 se-Provinsi Jawa Barat sebagai daerah rawan bencana, karena masih memiliki resiko tinggi terhadap bencana alam, terutama bencana longsor. 145 Desa dan kelurahan di kabupaten Majalengka masih berpotensi rawan longsor,” ungkapnya.

Sebagai contoh, lanjut dia, di desa Sidamukti telah terjadi pergerakan tanah dan longsor yang menimpa bangunan sekolah SMPN 7 Majalengka, sehingga tidak dapat dipakai lagi dan beberapa bangunan rumah masyarakat yang rusak.

“Tindakan pemerintah daerah, khususnya oleh BPBD Kabupaten Majalengka akan melakukan beberapa perbaikan bagi korban bencana, seperti perbaikan sosial budaya, perbaikan fisik dan perbaikan ekonomi,” pungkasnya. (Abduh)

2172 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*