Bupati Sutrisno Minta Galakan Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik

MAJALENGKA (CT) – Bupati Majalengka, H. Sutrisno meminta pegawai di lingkungan Pemkab Majalengka, komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia, khususnya di ruang publik, seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, spanduk, baligo dan rambu lalu-lintas.

“Penggunaan bahasa Indonesia masih minim di ruang publik. seperti kalangan mahasiswa, artis, politisi media masssa lebih suka menggunakan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi. Ini menunjukan fenomena banyak pelanggaran bahasa Indonesia sebagai simbol identitas bangsa,” kata Bupati Sutrisno saat membuka sosialisasi lokakarya pemartabatan bahasa negara yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Majalengka, di Aula SKB jalan KH. Abdul Halim. Selasa (29/09).

Menurut Bupati Sutrisno penggunaan bahasa Indonesia seolah dinomorduakan, dalam gedung perkantoran dan penamaan bangunan atau gedung, papan petunjuk, rambu lalu-lintas dan lainnya.

“Perlu upaya kuat untuk menata kembali penggunaan bangsa Indonesia untu pemilik hotel, gedung, rumah makan dan sektor swasta lainnyan” ujar Bupati Sutrisno di hadapan para pengusaha, kepala sekolah, pelajar, mahasiswa, LSM dan akademisi yang menjadi peserta.

“Saya akan mendorong dibuatnya Perda perlindungan bahasa Indonesia dan daerah dalam waktu secepatnya,” tegas Bupati Sutrisno.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Muhamad Abdul Khak mengatakan dipilihnya Kabupaten Majalengka sebagai tempat sosialisasi karena Majalengka akan menjadi kota yang besar dengan hadirnya BIJB.

“Penertiban bahasa di ruang publik menjadi bahasa bermartabat dan selama ini bahasa asing mendominasi bahasa di ruang publik, sebelum Majalengka menjadi kota Metropolitan hal ini harus disosialisasikan dan antisipasi, jangan seperti di Jalan Dago Bandung 75 persen ruang publiknya menggunakan bahasa asing,” ungkapnya.

Ketua Kadin Majalengka H. Budi Victoriady mengimbau para pengusaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam produknya.

“Terutama untuk skala menengah ke atas, jangan seperti UMKM kita membeli keset di pasar tradisional di Majalengka saja tulisannya “Welcome” dan gerobak dorong Ayam Goreng saja dilabeli “Fried Chicken”,” ungkapnya. (Abduh)

1683 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*