Bupati Sutrisno Ajak Warga Tangkal Radikalisme di Majalengka

MAJALENGKA (CT) – Aksi terorisme yang berkedok agama yang melakukan aksi pengeboman di Jakarta, beberapa hari yang lalu menjadi perhatian serius Bupati Majalengka, H Sutrisno. Pasalnya bukan tidak mungkin aksi dan ajaran sesat itu sampai ke pelosok daerah termasuk Majalengka.

Untuk itu, Pemkab Majalengka berinisiatif mengumpulkan semua forum komunikasi pimpinan daerah (FKPD), para camat, ormas keagamaan serta LSM dalam menangkal dan mendeklarasikan anti terorisme.

Bupati Sutrisno mengatakan, sebagai pemimpin daerah yang juga melakukan pool data intelejen, dirinya meminta masukan dari semua elemen pemerintahan sipil, militer dan masyarakat.

sebagai tindakan preventif terhadap masuknya teroris maupun ajaran sesatnya. Semua itu demi keamanan, ketertiban dan kenyamanan warganya, apalagi Majalengka yang tengah giat membangun perekonomian memerlukan kestabilitasan keamanan yang terjamin.

“Dari informasi yang saya himpun baik dari intelejen pusat maupun daerah, Majalengka masuk zona merah pengaruh radikalisme sebagai wilayah yang mencakup Ciayumajakuning dan Subang. Pangkal persoalan darimasalahnya diantaranya masalah penyimpangan ideologi Pancasila, ketidakpuasan politik, Kesenjangan ekonomi, sosial budaya dan pengaruh kelompok-kelompok radikal yang berasal dari luar,” kata Bupati ketika membuka acara deklarasi menangkal aksi terorisme di Gedung Yudha Karya Abdi Negara Setda, Senin (18/01).

Penangkal yang handal, lanjut Bupati Sutrisno, dari ancaman radikalisme itu adalah kekuatan dan persatuan rakyat. Yang dibangun oleh para tokoh masyarakat dan tokoh agama, dengan mengayomi serta memberi pengertian tentang bahayanya paham radikalisme. peran serta masyarakat juga penting, dengan melaporkan bila ada kejadian atau seseorang yang mencurigakan diwilayahnya, terutama di area kost-kotsan dan kontrakan.

“Dari sini awal terorisme bisa dideteksi sedini mungkin, sehingga ada waktu bagi aparat untuk menindaklanjutinya,” tukasnyaa.

Kajari Majalengka Iwa Suwia Pribawa menambahkan, ajaran terorisme tumbuh subur pada keadaan yang serba tanggung. seperti tanggung pada pemahaman agama, tanggung pada hal ekonomi, waktu serta umur.

“Sebagai informasi, jaringan teroris sekarang sadar komunikasinya sedang diawasi dan disadap, mereka menggunakan medsos seperti FB menggunakan satu akun. Jadi obrolannya bukan antar akun, tapi disatu akun itu sendiri sehingga tidak mudah untuk dilacak,” jelas Kajari yang akrab disapa Kang Iwa ini. (Abduh)

6417 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*