Dihadiri Keturunan Kerajaan Talaga Manggung, Ritual “Kirab Budaya Talaga” Rekatkan Silaturahim

Majalengkatrust.com – Ribuan warga dari berbagai daerah di Majalengka bahkan luar Majalengka seperti Ciamis, Sumedang, Karawang, Bekasi, Cirebon, Kuningan, Cianjur dan lainnya menghadiri ritual Kirab Budaya dan Nyiramkeun (mencuci, red) benda-benda peninggalan Kerajaan Talaga Manggung di Museum Talaga Manggung, Senin (14/11).

Ketua Yayasan Talaga Manggung Raden Apun Hendra Cahyaningrat mengatakan, acara tersebut dihadiri para kerabat dan keturunan Kerajaan Talaga Manggung dari Sumedang, Ciamis, Subang, Karawang, Bekasi, Jakarta, Cianjur dan lainnya.

“Intinya kita ingin mendekatkan silaturahmi dengan semua keturunan Talaga dan melestarikan warisan leluhur kita,” ujar Raden Apun.

Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu sebelumnya diawali dengan kirab, atau pawai mengarak benda-benda pusaka Kerajaan Talaga Manggung, seperti Kereta Simbar Kancana, pasukan bertombak, dan lainnya dengan berkeliling jalan-jalan protokol di Kecamatan Talaga, yang disaksikan oleh ribuan warga yang menonton, kemudian dilanjutkan dengan acara “Nyiramkeun” atau mencuci benda-benda pusaka Kerajaan.

Raden Apun mengatakan acara Nyiramkeun diawali dengan mengambil air dari 9 mata air, yang terdapat di bekas wilayah Kerajaan Talaga Manggung.

Menurutnya, Nyiramkeun merupakan kegiatan membersihkan artefak peninggalan Kerajaan Talaga Manggung, yang disimpan oleh keturunannya dengan air tumbukan bunga Mayang yang disimpan dalam sebuah bejana besar dan biasa dilakukan pada hari Senin, sebelum tanggal 20 bulan Safar.

“Masuk islamnya Raden Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umun terjadi di hari Senin bulan Safar dan meninggalnya Sunan Talaga Manggung pun terjadi di hari Senin bulan Safar,” ujarnya.

Ritual Nyiramkeun ini, menurutnya dimulai dengan mengambil air dengan wadah dari bambu kuning ke sembilan sumber mata air yang dianggap keramat yaitu air dari Gunung Bitung, Situ Sangiang, Cikiray, Wanaperih, Lemahabang, Regasari dan Cicamas, Nunuk.

“Pengambilan air dilakukan oleh sesepuh atau tokoh adat pada awal bulan Safar, Bambu Kuning berisi air kemudian dibawa ke Museum Talaga Manggung, untuk disatukan ke dalam satu kendi, kemudian dibacakan doa secara Islam,” jelasnya.

Dalam ritual Nyiramkeun air dari bambu kuning itu, menurutnya, disiramkan ke benda-benda pusaka, dimulai dari menyiramkan air ke arca Raden Panglurah, arca Simbar Kancana, pedang, gong dan benda pusaka lainnya.

Wakil Bupati Majalengka H. Karna Sobahi berharap, ketahanan budaya harus dibangun dan terus dipelihara untuk mengatasi masuknya budaya-budaya dari luar, yang tidak cocok dengan karakter budaya dan sifat masyarakat Nusantara.

Ketua Padepokan Talaga Manggung H. Tatan Hartono mengatakan, merawat dan menjaga kearifan lokal yang dimiliki Talaga Manggung harus terus digelorakan agar warisan sejarah di masa lalu itu menjadi nilai penting bagi generasi saat ini dan masa depan. (Abduh)

1518 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*