Dijemput Paksa Inspektorat Majalengka, SH Oknum Kepsek Gelapkan Tabungan Siswa Kabur

MAJALENGKA (CT) – Kantor Inspektorat Kabupaten Majalengka bakal menjemput paksa SH, oknum kepala sekolah SD yang diduga melakukan penggelapan uang tabungan siswa senilai ratusan juta rupiah. Namun sayang, oknum mantan kepala sekolah tersebut melarikan diri dan tidak diketahui keberadaannya.‬

‪Kepala inspektorat (Inspektur) Kabupaten Majalengka H Lalan Soeherlan menyebutkan, dari delapan orang yang direncanakan diperiksa terkait tindakan dugaan penggelapan dana tabungan siswa, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terharap tujuh orang oknum pihak sekolah maupun oknum guru yang diduga menggelapkan tabungan siswa, berasal dari berbagai sekolah di Majalengka.‬

‪Satu orang lainnya, yakni SH yang juga mantan kepala sekolah di salah satu SDN di kawasan Kadipaten, sudah dikirmkan surat panggilan sebanyak dua kali, tapi selalu mangkir dari panggilan. Pihaknya berencana menjemput paksa SH pada panggilan ketiga.‬

‪Namun, di panggilan ke tiga, yang memenuhi panggilan Inspektorat adalah istrinya SH. Karena mantan Kepala Sekolah yang ikut nyalon Kades dalam Pilkades serentak itu, diketahui kabur dari kediamannya. Saat dimintai keterangan, istri SH juga mengaku tidak mengetahui keberadaan SH, karena sudah hampir satu bulan sejak kalah dari pencalonan Pilkades, SH sudah jarang pulang ke rumah.‬

‪Apalagi, ketika mulai memasuki akhir tahun ajaran 2014-2015, ketika jatuh tempo pengembalian tabungan siswa, SH sudah tidak lagi pulang ke rumah. Sehingga, isterinya pun merasa tertekan karena sering didatangi orang tua siswa yang menagih pengembalian uang tabungan siswa menjelang berakhirnya tahun ajaran.‬

‪”Kita awalnya mau menjemput paksa dia di panggilan ke tiga, tapi informasinya SH kabur dari rumah dan keberadaanya sampai sekarang tidak diketahui. Jadi, kita panggil istrinya untuk dimintai keterangan, tapi istrinya juga mengaku tidak tahu. Sejauh ini kita masih mempercayai keterangan dari istri SH, karena dia memberikan keterangan di bawah sumpah,” ungkap Lalan, Senin (13/07)‬

‪Sementara itu, istri SH juga mengaku sudah menjaminkan rumah mereka untuk menalangi uang tabungan siswa yang digelapkan senilai ratusan juta rupiah. Saat ini, sedang dalam proses penjajakan kepada calon pembeli yang berminat membeli rumah mereka, uang hasil penjualanya akan dipakai untuk mengganti uang tabungan siswa yang digelapkan SH.‬

‪Selain memproses SH atas tindakan penyelewengan dana tabungan siswa, pihaknya juga bakal memproses SH atas pelanggaran disiplin. Karena selama kabur dari rumah berhari-hari, SH juga diduga melakukan pelanggaran disiplin mangkir dari kewajibannya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS).‬

‪Memang sejak mencalonkan diri sebagai calon kades pada salah satu Desa di Kecamatan Kadipaten, SH melepas jabatan kepala sekolahnya, dan saat ini statusnya hanya sebagai PNS fungsional biasa. Namun, bukan berarti dia bisa mangkir seenaknya dari pekerjaanya sebagai PNS walau sudah tidak lagi menjadi Kepala Sekolah.‬

‪Mengenai tindakan terharap para oknum guru dan pihak sekolah lain yang juga diduga melakukan penggelapan terhadap tabungan siswa, pihaknya baru melakukan pemeriksaan tahap awal. Namun, rata-rata dari mereka yang diperiksa sudah bersedia menyanggupi mengembalikan uang tabungan siswa sebelum lebaran ini. Jika mangkri, pihaknya mempersilahkan orang tua siswa yang dirugikan itu melapor secara resmi ke pihak yang berwajib.

Seperti diberitakan CT sebelumnya ratusan orang tua murid Sekolah Dasar Negeri 2 Kadipaten, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka kecewa karena uang tabungan 350 orang murid sebesar Rp 380.000.000 lebih diduga digelapkan oleh mantan kepala sekolah tersebut yang kini pindak ke sekolah lain.

Uang tabungan yang dibagikan kepada masing-nasing murid di sekolah tersebut hanya sebesar kurang lebih 20 persen hingga 30 persenan saja dari jumlah total tabungan yang dimiliki murid, sisanya belum jelas kapan akan dibagikan.

Sejumlah orang tua murid dan guru menduga uang tabungan tersebut habis dipergunakan kepala sekolah untuk biaya mengikuti pemilihan kuwu di desanya, di Karangsmabung, yang kini dikalahkan lawannya.

Menurut orang tua murid, Matus dan Marbun, harusnya uang tabungan dibagikan pada tanggal 15 Juni lalu, namun gagal karena uang tabungan belum diserahkan oleh mantan kepala sekolah mereka, Sudiro Husodo warga Desa Karangsambung, Kecamatan Kadipaten. Murid akhirnya dijanjikan tabungan dibagikan pada Sabtu (20/6/2015), namun ternyata hanya sebagian saja.

Hasan orang tua murid yang bekerja sebagai pengayuh beca mengatakan, uang tabungan anaknya sebesar Rp 800.000 hanya diterima Rp 100.000 saja, sisanya dijanjikan akan dibayar sebelum lebaran.

“Saur guruna mah bade diusaheun engke dibarana samemeh lebaran, margi kepala sakola nuju usaha keneh. (Kata gurunya, akan diusahakan dibayar nati sebelum lebaran, karena kepala sekolah sedang mengusahakan uang tersebut),” ungkap Hasan, Minggu (21/06).

Hal senada juga disampaikan Mumut yang juga menerima uang tabungan sebesar Rp 100.000 dari jumlah uang tabungans ebesar Rp 540.000. Namun dia pesimis kalau uang tabungan akan bisa diterima dalam waktu dekat karena, sebelumnya juga berjanji akan diserahkan seluruhnya namun nyatanya tidak.

Sedangkan orang tua murid lainnya Wiwin dan Aceng mengaku pada tahun ini memilih tidak menyimpan uang tabungan anak di sekolah, alasannya kondisi serupa pernah terjadi pada tahun lalu, uang tabungan terlambat diserahkan karena alasan yang sama.

“Gejalan seperti ini sudah nampak sejak tahun lalu, uang tabungan terlambat diserahkan. Makanya saya tahun ini lebih memilih tidak menabung,” kata Aceng.

Dua orang guru kelas VI, Toto Sugiarto dan Eman Suherman membenarkan uang tabungan murid berada di mantan kepala sekolah mereka Sudiro Husodo sehingga tabungan murid belum seluruhnya dibagikan.

Suherman mengatakan Mantan Kepala Sekolahnya berjanji sedang mengusahakan uang tabungan yang terpakai tersebut dengan cara menjual rumahnya yang kebetulan memiliki tiga rumah serta satu kendaraan pribadi.

“Beberapa hari lalu kepala sekolah sudah berunding dengan pengurus PGRI dan kepala UPTD untuk mencari solusi pelunasan uang tabungan, hasilnya sepeti apa kami tidak tahu. Tapi janjinya akan dilunasi dengan cara menjual rumah,” papar Eman Suherman.

Hanya persoalannya menurut orang tua murid dan guru, rumah dan mobil belum tentu bisa cepat terjual, selain itu harga rumah dan mobil diperkirakan tidak akan memenuhi seluruh uang tabungan murid.

“Yang namanya menjual rumah tidak secepat menjual barang emas mungkin saja bisa bertahun-tahun, selain itu rumah yang di jual berada di gang sempit dan rumah biasa di kampong, harganya tidak akan sampai Rp 300.000.000 , mobil juga demikian karena mobil tua,” kata Hasan.

Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Majalengka H. Toto Sumianto membenarkan adanya kasus tersebut, namun diharapkan sisa uang tabungan diharapkan segera dibagikan sebelum lebaran sesuai janji Sudiro Husodo.

“Kasus seperti ini adalah penyakit Juni,” Toto mengistilahkan kerap terjadinya uang tabungan murid yang dipergunakan guru dan kepala sekolah setiap tahun di bulan Juni. (Abduh)

3420 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*