Dongkrak Ekonomi Masyarakat, Pemkab Majalengka Maksimalkan Potensi Sektor Wisata

MAJALENGKA (CT) – Wilayah Kabupaten Majalengka dengan kondisi geografis terbagi antara dataran rendah dan pegunungan, cukup prospektif dan potensial bagi pengembangan pariwisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Majalengka, Agus Permana, secara umum obyek wisata dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu objyek wisata alam dan obyek wisata binaan. Sedangkan secara rinci dapat dikelompokan menjadi beberapa bagian diantaranya obyek wisata alam, obyek wisata sejarah, objek wisata budaya lingkungan, obyek wisata agro, obyek wisata pendidikan, obyek wisata religi, dan lain-lain.

“Dari dua puluh enam kecamatan, Kabupaten Majalengka memiliki tujuh sebaran satuan kawasan wisata (SSKW) dan lima SSKW yang menjadi prioritas untuk dikembangkan,” kata Agus Permana kepada CT, Sabtu (04/06).

wisata-majalengkaSSKW yang menjadi prioritas, lanjut dia, yaitu SSKW 1 yang meliputi obyek wisata Bendungan Rentang dan Kawasan Aerocity Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, termasuk di dalamnya akan dibangun sarana hiburan dan perhotelan dan terdapat perkebunan Mangga Gedong Gincu, Sirkuit Motorcross Gagarajy, Situ Cijaura dan Situ Aggrahan.

Kemudian SSKW Kawasan Wisata Sindangwangi (Kawit Wangi) yang terdapat obyek wisata Petilasan Prabu Siliwangi, Telaga Biru, Jabar Park, anyaman bambu dan renda, pembibitan buah tanaman pangan, Situ Cipanteun, depo ikan air tawar, Curug Tonjong, industri  rotan, Situ Janawi, emping melinjo, batu alam, kecap, Situ Cikuda, Batu Luhur, Durian Sinapeul, Talaga Herang, Perkebunan Teh Sadarehe, Bukit Alam Hejo, dan Curug Cipeuteuy.

Selanjutnya SSKW Argapura yang mempunyai Curug Muara Jaya sebagai unggulan, Terasering Panyaweuyan, Panorama Cikebo, Pendakian Gunung Ciremai, Perkebunan Jagung, Curug Sawer, Green Canyon, Curug Pelangi, dan Bumi Perkemahan Cipanteun dan terintegrasi dengan Situ Sangiang dan Museum Talaga Manggung.

SSKW yang keempat, kata Agus Permana, yaitu kawasan penyangga kota yang mempunyai obyek wisata unggulan area olahraga Paralayang di Gunung Panten Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, yang terintegrasi dengan Sirkuit Road Race Cibatu dan Sirkuit Motorcross Mekarguna dan perkebunan mangga gedong gincu dan industri bola sepak.

“Di kawasan ini juga akan dikembangkan stone garden di Pancu Rendang yang masih dalam tahap kajian dan analisis,” ungkap Agus Permana.

Agus Permana mengatakan SSKW terakhir yang menjadi prioritas, terletak di kecamatan Lemahsugih dan sekitarnya dengan obyek wisata unggulan Kebun Teh Cipasung, Perkebunan Jagung, Curug Tapak Kuda, Panorama Lemah Putih, dan Taman Dinosaurus, dimana terdapat beberapa patung hewan purba Dinosurus dengan ukuran aslinya.

Agus Permana mengatakan, pengembangan pariwisata perlu direncanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan yang berbasis penggalian potensi yang dimiliki suatu daerah atau kawasan, sehingga menciptakan iklim kondusif bagi para pengusaha atau pemilik usaha pariwisata dalam penyelenggaraan dan pelayanan wisata.

majalengkaPerencanaan pengembangan kawasan wisata yang terarah dapat berarti menciptakan kesempatan seluas-luasnya kepada wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata agar mendapat pengalaman, pengetahuan dan kepuasan secara psikologis.

“Pengembangan kawasan wisata juga dapat memberdayakan masyarakat sekitar dengan tetap melibatkan masyarakat di kawasan tersebut,” imbuhnya.

Agus Permana mengatakan inventarisasi pengembangan berbagai potensi pariwisata dengan segala fasilitas pendukungnya, memerlukan upaya dari berbagai pihak terutama instansi, lembaga dan dunia usaha yang langsung maupun tidak langsung menunjang pembangunan kepariwisataan, sehingga segala program dan kegiatan pembangunan kepariwisataan antar sektor tersebut dapat terpadu serta berjalan secara efisien dan efektif.

Pengamat Pariwisata Herry Supriyadi dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Majalengka berharap, pengembangan wisata dapat berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar obyek wisata.

“Tolak ukurnya seperti di Pangandaran atau Bali dimana masyarak sekitar kawasan wisata bisa “hidup” dari obyek wisata dengan berdagang, mengelola parkir, menyewakan penginapan, menjadi pemandu wisata dan lainnya,” ujar Herry.

Herry yang menjabat Kepala Bidang IT dan Komunikasi KADIN Majalengka juga menyarankan, perlunya promosi yang gencar untuk objek-objek wisata di Majalengka baik itu melalui media massa, media sosial maupun promosi-promosi dengan mengikuti pameran di dalam dan luar negeri.

“Kalau perlu membuat paket wisata dengan perusahaan biro perjalanan dengan difasilitasi Pemkab Majalengka, dengan paket-paket menarik dan program khusus, misalnya menampilkan kesenian setempat gratis, itu yang belum saya lihat di Majalengka,”ungkapnya.

Bupati Majalengka H. Sutrisno mengatakan dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Majalengka, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka akan memperluas infrastruktur jalan ke daerah wisata dan mempermudah perizinan investor yang akan membangun hotel di Majalengka.

Ia menambahkan selain di komplek Grage Hotel akan dibangun kolam renang dengan standar nasional yang bisa dipakai pembinaan atlet-atlet renang. “Agar dalam Porda kita kompetitif seperti Cirebon, salah satu cabang penyumbang medali yang banyak selain atletik adalah renang,” jelasnya.

Selain itu Sutrisno mengatakan masalah wisata dirinya menginginkan menjadi unggulan utama Majalengka. “Termasuk area Gunung Ciremai yang masuk wilayah Majalengka. Menurut kepala BTNGC ke saya flora faunanya lebih bagus dari Kuningan, di musim kemarau ada 7 spesies burung Jepang yang migrasi, ada macan tutul dan pohon-pohon eksotik yang langka, ini potensi untuk dikembangkan,” ungkap Sutrisno.

SITU-SANGIANGSelain itu menurutnya Majalengka mempunyai Situ Sangiang dengan luas 19 hektare yang akan dijadikan deposit air bersih dan wisata dan sedang diajukan hak pengelolaannya ke Menteri Kehutanan.

“Infrastruktur jalannya akan saya lebarkan untuk akses ke objek-objek wisata. Termasuk Jalan Majalengka-Jatiwangi juga akan saya lebarkan,” jelasnya.
Sutrisno mengatakan dengan potensi wisata yang dimiliki ke depan, dengan adanya BIJB dan jalan tol Cikapa dan Cisumdawu, perekonomian rakyat Majalengka bisa terangkat. “Dengan adanya BIJB, tidak hanya sebagai tempat transit, tapi orang berwisata di Majalengka,” tukasnya

Sutrisno mengatakan Pemerintah Kabupaten Majalengka bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan mengembangkan konsep wisata terpadu yang terintegrasi dan dikonsentrasikan di wilayah Selatan dan Timur Majalengka.

“Saya sudah mengambil kerjasama dengan Pemkab Kuningan untuk mengembangkan pariwisata bersama di wilayah selatan dan timur Majalengka yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan,” kata Bupati Majalengka H. Sutrisno.

Konsep pusat wisata bersama ini menurut Sutrisno, Kabupaten Kuningan akan mengembangkan kebun raya, sedangkan Kabupaten Majalengka akan mengembangkan kebun binatang dan pusat-pusat wisata lainnya dengan akses jalan yang tersambung antara Kuningan-Majalengka dari tempat-tempat wisata tersebut.

“Kita akan sambungkan jalan Kuningan-Majalengka seperti jalan tembus Padaherang-Padabeunghar ke Rajagaluh dan Cipulus Kecamatan Cikijing ke Kuningan,” jelas Sutrisno.

Dalam kunjungannya ke objek wisata Situ Sangiang, Sutrisno mengatakan harapannya ada investor yang mampu membangun wisata alami, dengan membangun bungalow atau tempat peristirahatan di sekitar Situ Sangiang yang hutannya masih alami dan sejuk.

“Kita juga akan membangun jalur track off road dari Rajagaluh sampai ke Situ Sangiang dan dari Sangiang bisa naik perahu boat ke tujuan yang dicapai, ini yang akan kita kembangkan yang tidak ada di daerah lain,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut dalam pengembangan pariwisata, Sutrisno mengatakan Pemerintah Daerah siap memfasilitasi pembangunan infrastrukturnya mulai jalan raya dan sebagainya.

“Bahkan yang tidak ada jalur kendaraan besar, Pemda akan membuatnya,” ujarnya.

Konsep perencanaan wisata ini menurutnya sesuai konsep rencana detail tata ruang (RDTR) Kabupaten Majalengka, di mana di wilayah utara sebagai penyangga Bandara Internasional ditetapkan sebagai pusat industri, bisnis, jasa dan perdagangan sedangkan wilayah selatan yang berbukit-bukit dan sejuk sebagai tempat hotel, pengembangan pariwisata dan pemukiman ekslusif.

“Jangan sampai dengan adanya BIJB, jalan tol, kita hanya sebagai penonton dengan adanya hotel, restoran dan pariwisata tentu akan menjadi peningkatan PAD untuk pembangunan dan manfaatnya diambil oleh masyarakat,” tegasnya.

Dalam dokumen formal RDTR, tahun ini Sutrisno mengatakan 7 kecamatan Raperda RDTR-nya akan diajukan ke DPRD dan diantaranya memasukan zonasi pariwisata,  diantarannya akan membuat rest area seluas 500 hektar di sekitar BIJB dengan disertai taman buah, taman safari dan arena hiburan seperti dunia fantasi.

“Harapannya orang yang akan terbang membawa keluarganya bisa menginap dulu di sekitar bandara dengan menikmati area rekreasi yang tersedia tersebut,” jelasnya

Sutrisno mengatakan, sebagai bentuk implementasi program Pemkab Majalengka yang menjadikan Majalengka religius, maju dan sejahtera, bisa dimulai dengan pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis agrobisnis.

“Hal tersebut karena melihat kondisi geografis wilayah Majalengka yang cocok dengan agrobisnis dan agrowisata, pengembangan agrowisata dan agrobisnis akan menambah pendapatan fiskal Kabupaten Majalengka dan mendorong pemberdayaan masyarakat dan ekonomi kerakyatan,”pungkas dia. (Abduh)

5310 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*