Forum STAI PUI Majalengka Ajak Mahasiswa Lebih Bertoleransi Antar Umat Beragama

MAJALENGKA (CT) – Semua agama di negeri ini mengajarkan tentang kebaikan kepada umatnya. Kalau pun lahir kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama, itu dilakukan oleh oknum, karena minimnya pemahaman agama yang dianutnya.

Hal itu mengemuka dalam diskusi yang digelar Forum Studi Pancasila Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persatuan Umat Islam (PUI) Majalengka, dengan mengusung tema toleransi uamat beragama dalam prespektif negara Pancasila, Minggu (20/12) di kampus setempat.

Kegiatan diskusi itu diikuti para mahasiswa dan perwakilan kelompok masyarakat. Menurut narasumber dalam diskusi itu, Heru Hoerudin, saat ini perhatian dunia tengah terfokus dengan adanya konflik antara barat dan timur. Terjadinya peperangan di timur tengah salah satunya bisa diakibatkan munculnya persoalan agama.

Termasuk pernyataan kandidat calon Presiden Amerika Donald Trump yang melarang umat Islam datang ke Amerika dirinya terpilih nanti. Sikap itu tentunya telah mencerderai toleransi antar umat beragama serta bertolak belakang dengan sikap dan kebudayaan Amerika yang menjungjung tinggi toleransi.

“Ini terjadi karena pemahaman tentang agama Islam yang sempit. Sehingga menilai bahwa Islam itu radikal dan membenci perdamaian,”kata pengurus MUI Kabupaten Majalengka ini.

Menurut dia, dari data yang diperolehnya, jumlah umat beragama di dunia ini saat ini jumlah umat Kristen 2 miliar, Islam 1,3 miliar, Hindu 900 juta, Budha 360 juta, Yahudi 14 juta, lain-lain 525 juta dan belum beragama 850 juta.

Maka dari itu, lanjut dia, dalam menumbuh kembangkan kesadaran umat beragama di negeri ini, agar tidak melahirkan konflik yang berujung SARA, perlu adanya sikap toleransi antar umat beragama. Sehingga masyarakat bisa menerima setiap perbedaan, menjungjung tinggi toleransi dan membangun kerjasama dalam mencapai satu tujuan.

“Harus diakui keberadaan Pancasila itu sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, di tengah banyak agama, suku, ras, kebudayaan yang berbeda-beda. Maka dari itu, Pancasila sejak dulu sampai saat ini membawa masyarakat Indonesia rukun dan harmonis,” kata Pembantu Ketua (Puket) II STAI PUI ini.

Masih dijelaskan Heru, kerukunan itu suatu kondisi yang aman, tentram, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan kehidupan harmonis bisa diartikan kehidupan yang nyaman dan penuh tenggang resa di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Umat sendiri merupakan kelompok masyarakat yang menganut agama sesuai dengan keyakinannya sendiri, seperti umat Islam, umat kristen, umat Budha, umat Hindu, Konghucu, dll,”paparnya.

Ketua Panitia Diskusi Dedi Supriadi mengatakan, penyelenggeraan diskusi ini bertujuan memberikan pemahaman dan pencerahan kepada para mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya toleransi antar umat beragama. Agar masyarakat tetap hidup rukun, harmonis, dan tetap dalam bingkat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dijelaskan dia, sikap toleransi sangat diperlukan dalam menciptakan kehidupan yang rukun dan damai dalam kehiduapan beragama. Karena pada dasarnya sikap toleransi dapat melatih dan membiasakan hati manusia menjadi umat yang memahami, serta mengerti akan setiap kebutuhan, dan kepentingan orang lain.

“Selama kepentingan itu tidak merugikan semua pihak yang terkait. Hal ini merupakan upaya agar tetap terpeliharanya kerukunan umat beragama. Sehingga diharapakan terlahir kerjasama sama dan tolong menolong demi terwujudnya kerukunan hidup beragama,”jelasnya. (Abduh)

2520 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*