Harga Cabai Turun Drastis, Petani di Majalengka Kecewa

MAJALENGKA (CT) – Harga cabai merah dan cabai rawit di tingkat petani turun drastis sepekan terakhir dan membuat petani resah. Banyak petani enggan memanen serta membiarkan cabai di kebun terbengkalai tidak dipanen.

Dari pengakuan petani cabai merah di Desa Pilangsari Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka, Ito (45) mengatakan, harga cabai sebulan terakhir terjun bebas tak terkendali. Harga yang sebulan lalu mencapai Rp 35.000, kemudian turun bertahap menjadi Rp 25.000.

Sepekan kemudian menjadi Rp 15.000 dan pekan ini hanya dihargai Rp 4.000 per kilogram di tingkat petani. ”Saat ini sudah merupakan harga terendah di petani,” katanya kepada CT, Senin (26/10).

Ito mengatakan, dengan harga sebesar itu petani yang sudah panen pertama pada September- Oktober mengalami kerugian besar. Menurutnya satu petak lahan seluas 1.400 meter membutuhkan biaya tanam sampai panen sekitar Rp 8 juta. Padahal satu petak jika dipanen hanya mendapat hasil empat kuintal. Dengan harga Rp 4.000 per kilogram maka petani hanya dapat Rp 1,6 juta. Belum lagi uang itu harus dipotong ongkos buruh panen Rp 50.000/orang karena memanen satu petak sendiri jelas tidak mungkin.

Meskipun cabai bisa dipanen dua sampai tiga kali, dengan harga saat ini hasilnya tidak akan menutup ongkos tanam. Ironis, banyak petani di daerahnya terjebak karena ternyata saat ini semua panen sehingga harga anjlok.

Hal senada juga dikatakan oleh Bari (38) petani cabai lainnya, Dia mengatakan harga cabai di pasar hanya Rp 6.000- Rp 7.000/ kilogram. Padahal wilayahnya termasuk yang mengalami kekeringan dan tidak ada panen cabai namun harga di pasar tetap murah.

“Untung di sini sudah tidak banyak lahan cabai,” katanya.

Bari mengungkapkan, harga cabai anjlok diduga karena banyak petani terjebak tanam cabai bukan palawija. Petani nekat tanam cabai pada Agustus dengan harapan harga cabai naik karena kemarau. Namun faktanya karena banyak yang terjebak menyebabkan panen melimpah. Bahkan di wilayahnya malah ada lahan cabai merah dibiarkan terbengkalai tak diurus meski pohon berbuah. Petani meninggalkan pohon begitu saja sebab harga komoditas menjadi murah. Sisa buah dimanfaatkan warga untuk memasak dan sebagian mengering. (Abduh)

1806 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*