Harga Daging Sapi di Majalengka Capai Rp. 110 Ribu, Pedagang Mengaku Merugi

MAJALENGKA (CT) – Stok sapi potong di Kabupaten Majalengka masih mencukupi untuk kebutuhan konsumen, namun harga sapi di tingkat petani mulai naik sehingga kondisi tersebut berdampak pada harga di tingkat pasaran.

Menurut keterangan para pedagang daging sapi di Pasar Cigasong Majalengka seperti disampaikan Mimih, selama ini mereka masih bisa memperoleh sapi potong dari petani lokal, hanya saja harganya cukup mahal.

Satu kilogram daging sapi yang biasanya usai lebaran kembali normal atau paling besar harganya mencapai Rp 80.000 per kg itu harga dari petani. Kondisi tersebut berdampak pada harga penjualan daging di pasaran yang kini mencapai Rp 110.000 per kg.

“Barang masih ada di tingkat petani hanya saja harganya lumayan mahal,” kata Mimih salah seorang pedagang daging di pasar Cigasong, Majalengka.

Hal senada juga disampaikan Dudung pedagang lainnya, dia setiap hari masih bisa mendapatkan sapi potong dari petani, bahkan bandar ternak langganannya setiap saat mengirim langsung ke rumahnya di Kelurahan Cicenang. Kalau pengiriman tersendat Dudung langsung mencari ke peternak lain yang ada disejumlah daerah di Majalengka seperti Pancurendang, Kelurahan Babakanjawa, Kecamatan Majalengka, Desa Jaurgeulis, Kecamatan Bantarujeg, atau ke Cimuncang. Kecamatan Maja. Disana banyak petani lokal yang sengaja melakukan penggemukan sapi potong.

Yang aneh menurut beberapa pedagang, stok daging banyak namun konsumen justru menurun. Yang biasanya daging sudah habis sekitar pukul 11.00 WIB saat ini hingga siang hari stok daging masih tersedia.

Bahkan salah seorang pedagang daging di Pasar Kadipaten Beben menyebutkan stok daging lima hari yang lalu masih ada belum terjual, daging tersebut membeku di bok es di kiosnya. Karena lama tidak terjual warna dagingpun nyaris berubah warna.

“Kalau tidak terjual ya terpaksa dibuat dendeng agar awet dan dendeng bisa dijual dengan harga lebih mahal,” ungkapnya..

Sejumlah Pedagang di pasar Kadipaten menyebutkan belakangan terjadi penurunan omzet penjualan daging sebesar 30 persen hingga 50 persen. Turunnya omzet penjualan tersebut diprediksi akibat dampak psikologis pemberitaan yang setiap saat ditayangkan di televisi, yang menyebutkan daging sulit dan mahal. Padahal kondisi di pasar perkotaan tidak banyak berpengaruh terhadap kondisi daging di daerah. Karena di daerah barang diperoleh dari peternak sapi tradisional sedangkan pedagang daging di pasar perkotaan mengandalkan pasokan sapi impor atau pemasok dari importir sapi.

“Dampak pemberitaan tersebut cukup dirasakan pedagang seperti kami, pasokan sapi dari Wonosobo dan Blora yang baisanya cukup lancar kini agak tersendat, makanya kami sekarang mengandalkan sapi lokal, namun bersyukur stok sapi tetap ada walapun harganya mahal,” kata Beben.

Untuk daging kambing menurutnya, stok sangat banyak, karena di hampir semua pasar di wilayah Majalengka terdapat pasar domba. Makanya arus barang untuk ternak domba sangat tinggi.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Kabupaten Majalengka Agus Permana disertai Kabid Perdagangan Dudi Darajat menyebutkan stok ternak dan daging di Majalengka mencukupi. Bahkan untuk persediaan qurban pun masih mencukupi.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan bagian peternakan membahas kekhawatiran adanya kekurangan daging sapi di Majalengka, namun ternyata ternak sapi potong masih cukup tersedia dalam jumlah banyak di peternak lokal. Jadi tidak perlu dikhawatirkan masyarakat,” ungkap Agus. (Abduh)

3171 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*