Harga Tomat Jatuh, Petani Rugi hingga puluhan Juta

MAJALENGKA (CT) – Petani tomat di Kecamatan Lemahsugih dan Argapura Kabupaten Majalengka mengeluhkan turunnya harga tomat yang sudah berbulan-bulan, akibat hal tersebut mereka menderita kerugian hingga puluhan juta rupiah karena tomat terpaksa tidak dipanen dibiarkan membusuk di pohon.

Petani berharap ada intervensi dari pemerintah terhadap para petani holtikultura, mereka menganggap selama ini pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap petani holtikultura bila dibandingkan dengan perhatian terhadap petani padi.

Ojo (53) dan Asep (30) petani tomat di Blok Cakrawati, Desa Lemahputih, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka mereka membiarkan tanaman tomatnya tidak dipanen karena harga yang murah mencapai Rp. 300 per kg, bila dipaksakan dipanen maka akan rugi, karena upah panen tidak akan sebanding dengan harga jual tomat.

“Upah kerja setengah hari mencapai Rp. 30.000 untuk perempuan, itu belum ditambah dengan kopi dan makanan ringan yang mencapai Rp. 5.000, makanya kalau sekarang tomat dipaksakan dipanen akan rugi,” ungkap Ojo, Senin (03/08).

Akibat anjloknya harga Ojo mengaku menderita kerugian hingga mencapai Rp. 24.000.000. Untuk modal menanam tomat dia menjual satu ekor sapi peliharaannya karena awalnya berharap dia akan meraup keuntungan dari tani sehubungan bulan puasa biasanya semua harga melonjak naik. Namun harga tomat ternyata merosot tajam.

“Kalau tanaman tomat tidak tumpangsari dengan cabe keriting kerugian akan semakin besar, untunya saya berusaha tumpangsari dengan cabe yang harganya lumayan mahal,” kata Ojo.

Hal yang sama juga disampaikan juga dialami Asep, berton-ton tomatnya tidak dipanen dan dibiarkan membusuk di pohon, tanamannya dibiarkan mengering tidak mendapat pasokan air. Dia mempersilahkan siapapun untuk memanen tomatnya dikebun tanpa harus membeli.

Pada bulan puasa tepatnya menelang lebaran, Asep sempat memanen hingga 2,5 tonan lebih karena harga tomat saat itu sempat mencapai Rp 700 dari tingkat petani, setelah itu harga kembali anjlok.

“Sekarang ada sekitar 2 ton bila dipanen, tapi tentu akan habis oleh ongkos angkut dan upah panen,” kata Asep yang rugi hingga sekitar Rp. 50.000.000 dari tanaman tomatnya.

Siti petani di Desa Cibunut, Kecamatan Argapura juga demikian hanya dia tertolong dari harga jual bawang daun, karena tanaman tomatnya ditumpangsari dengan bawang daun. Kebetulan harga bawang daun sempat mencapai harga Rp 8.000 per kg.

Para petani berharap pemerintah bisa memberikan bantuan bagi petani holtikultura, berupa apapun bentuknya atau memberi solusi lain agar petani holtikultura tidak menderita kerugian yang terus menerus.

“Perhatian pemerintah terhadap petani holtikultura sangat kurang, padahal petani di pegunungan seperti kami tidak bisa menanam padi seperti halnya di daerah bawah, kalau tidak bercocok tanam sayuran kami tidak akan makan. Tapi perhatian pemerintah selalu dilakuakn terhadap petani padi,” katanya.

Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Pertanian Kabupaten Majalengka Nana Supriana mengatakan, tanaman tomat dan sayuran lainnya tidak masuk pada tanaman unggulan serta program Pemerintah Pusat, sehingga tidak mendapat perhatian pemerintah. Terkecuali untuk petani jagung atau bawang merah.

“Kalau untuk petani jagung dan bawang merah banyak bantuan sarana produksi tani seperti pupuk, bibit dan obat-obatan, bahkan hingga gudang penimpanan, karena kedua komoditas tersebut adalah komoditas unggulan. Sementara untuk tanaman holti lainnya meski rugi besar tidak akan mendapat perhatian seperti halnya terhadap petani jagung atau bawang merah,” ungkapnya. (Abduh)

2001 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*