Haul Tradisi Budaya Agamis di Desa Kagok Diikuti Ribuan Warga

Majalengkatrust.com – Ribuan warga dari berbagai kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat dan pulau Jawa menghadiri tradisi rutin tahunan haul atau “Haolan” di Desa Kagok Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka, Minggu (23/07).

Menurut keterangan Kepala Desa Kagok Kec. Banjaran Kab. Majalengka Muhlis, tradisi “Haolan” adalah ritual tahunan sejak zaman Kerajaan Talaga Manggung yang digelar setiap bulan Hapit atau Dzulqaidah dalam kalender Hijriyah setelah Hari Raya Idul Fitri.

“Intinya tradisi Haolan ini berziarah kepada wali atau syekh penyebar agama Islam di Wilayah Majalengka dan sekitarnya yaitu Sunan Wanaperih atau Arya Kikis dan Syekh Sayid Faqih Ibrahim atau Sunan Cipager yang masih keturunan langsung Raja Talaga yang berubah memeluk Islam setelah ditaklukan Cirebon,” kata Muhlis.

Pengunjung “Haolan” sendiri menurut Muhlis disamping masyarakat Majalengka juga mayoritas berasal dari wilayah III Cirebon, Cianjur, Sumedang, Tasik, Garut, Bogor bahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Hal ini tidak terlepas terkait silsilah Kerajaan Talaga Manggung yang keturunannya banyak yang menjadi Bupati di Cianjur, Sumedang, Ciamis bahkan di daerah-daerah lain yang dulunya ada hubungan dengan Kerajaaan Pajajaran,” jelasnya.

Lebih lanjut Muhlis mengatakan bahwa “Haolan” ini erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Majalengka yang terjadi pada abad 15 Masehi, dimana saat itu di wilayah Majalengka terdapat 3 Kerajaan bercorak Hindu/Budha.

Yaitu Kerajaan Sindangkasih dipimpin oleh, Nyi Rambut Kasih, Kerajaan Rajagaluh dipimpin oleh, Prabu Cakraningrat dan Kerajaan Talaga Manggung yang dipimpin oleh, Prabu Pucuk Umun atau Raden Rangga Mantri yang merupakan cicit Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja.

Sunan Wanaperih atau Arya Kikis, menurutnya merupakan putra sulung dari Prabu Pucuk Umum dari Ratu Sunyalarang dan menjadi Raja di Kerajaan Talaga Manggung pada tahun 1553-1556 Masehi dan mendirikan pesantren tertua di Majalengka.

Serta memindahkan Ibukota Kerajaan Talaga, daru Sangiang ke Wanaperih yang termasuk wilayah Desa Kagok saat ini.

“Setelah Ratu Sunyalarang meninggal dunia, Arya Kikis atau Sunan Wanaperih mendirikan pesantren dan mendatangkan guru mengaji Syekh Sayyid Faqih Ibrahim yang merupakan putra Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan Tasikmalaya yang makamnya berjarak 1 kilometer dari sini atau dikenal dengan Sunan Cipager,” jelasnya.

Masa-masa pemerintahan Sunan Wanaperih menurut Muhlis diwarnai dengan perkembangan Islam yang pesat. Di Masa kepemimpinannya seluruh rakyat di Talaga Manggung telah menganut agama Islam dan agama Islam semakin berkembang.

Karena Sunan Wanaperih berputra 6 orang yaitu Dalem Cageur, Dalem Kulanata, Apun Surawijaya, Ratu Radeya, Ratu Putri dan Dalem Wangsa Goparana, keturunannya turut menyebarkan Islam bahkan sampai ke luar wilayah Majalengka.

“Ratu Radeya menikah dengan Arya Saringsingan, sedangkan Ratu Putri menikah dengan anak Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan Tasik yaitu Syekh Sayyid Faqqih Ibrahim dan mereka menjadi penyebar Islam disamping putranya Dalem Wangsa Goparana yang pindah ke Sagala Herang Cianjur dan keturunannya menjadi trah Bupati Cianjur seperti Bupati Wiratanudatar I dan seterusnya,” jelas Muhlis.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman mengatakan bahwa tradisi “Haolan” merupakan potensi wisata budaya yang bisa dikembangkan di Kecamatan Banjaran yang memiliki banyak makam keramat atau wali yang sering diziarahi pengunjung.

Gatot mengatakan dari 27 makam kramat yang ada di Kabupaten Majalengka, 4 diantaranya terletak di Kecamatan Banjaran, selain di Desa Kagok, ada makam Arya Saringsingan di Desa Banjaran dan makam Prabu Pucuk Umum di sisi Situ (Telaga/Danau) Sangiang yang bahkan sudah sering dikunjungi wisatawan dari luar negeri.

“Kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengembangkan potensi wisata budaya ini, karena di hari-hari biasa pengunjung pun tetap ramai, dan bisa menghasilkan pendapatan asli daerah baik dari parkir, tiket masuk, maupun perekonomian warga sekitar yang bisa berdagang di sekitar lokasi makam,” jelas dia.

Sementara itu tokoh pemuda Desa Kagok Aom mengatakan bahwa tradisi “Haolan” membawa berkah bagi warga sekitarnya dari mulai berjualan hasil pertanian seperti Ubi jalar, bengkuang, talas, singkong, petai, pisang dan lainnya yang laris manis diserbu pembeli.

“Kami juga dapat penghasilan dari menyewakan kamar-kamar bagi tamu yang datang dari luar daerah yang biasanya menginap 2 sampai 3 malam,” ungkapnya. (Abduh)

990 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*