Kemarau Panjang, Petani di Majalengka Memilih Jual Tanah

MAJALENGKA (CT) – Kemarau panjang mengakibatkan lahan pertanian di beberapa Desa yang terdapat di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka mengering. Banyak lahan persawahan yang terbengkalai karena tidak adanya pasokan air. Para petani pun beramai-ramai menjual tanahnya.

Salah seorang petani, Sukarman, mengatakan setiap musim kemarau lahan persawahan banyak yang kering. Banyak petani mencoba mengembangkan tanaman palawija atau tanaman musiman lainnya, namun terkadang hasilnya tidak memuaskan karena kekurangan air.

“Kemarin sempat saya tanami kedelai, tetapi hasilnya tidak bagus,” jelas Sukarman, petani di Jatiraga, Kamis (03/09).

Selama masa kemarau ini, para petani banyak yang menjual tanah dalam bentuk bongkahan. Penjualan bongkahan tanah biasanya dilakukan petani untuk areal persawahan yang kondisinya lebih tinggi dibanding sekitarnya.

Selain mendapatkan uang penjualan, petani juga akan mudah mendapatkan aliran air saat masa penghujan. Dalam kurun waktu tertentu lapisan tanah bagian atas yang dijual itu pun akan kembali tertutup tanah.

“Setiap tahun banyak yang ngepras tanahnya untuk dijual,” ujarnya.

Salah seorang pembeli, Saryanto mengatakan saat musim kemarau seperti ini banyak pesanan dari masyarakat untuk membeli bongkahan tanah. Satu bak pikap, biasnaya dijual di kisaran Rp75 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung jarak tempuh.

“Kebanyakan memang untuk gerabah dan batu bata.”

Sementara itu petani kedelai merugi hingga ratusan juta rupiah lantaran tanaman kedelai mereka mengalami gagal panen. Tanaman kedelai seluas 6 hektar mengalami kekeringan sehingga mengakibatkan yang dapat dipanen hanya sekitar 2 hektar. Itupun dengan kualitas yang jauh dari harapan.

Jaya, salah seorang petani di Dusun Sabtu Jatitengah mengatakan, biasanya ia bisa memanen sebanyak 9 ton kedelai dengan harga Rp 15 ribu per kilogram, namun akibat kekeringan, diperkirakan ia hanya dapat memanen sekitar 3 ton saja.

“Harusnya dalam satu pohon kedelai terdapat 300 polong, namun dengan kondisi kekeringan seperti ini, satu pohon hanya menghasilkan 50 polong,” ujar dia lirih.

Dirinya mengaku terlanjur menanam di akhir musim hujan. Harapannya dapat hasil yang melimpah di musim kemarau. Tak dinyana, kekeringan panjang membuat ia harus gigit jari karena merugi.

Akibat kerugian yang diderita, petani belum berani mengambil bibit kedelai. Tanaman yang tahan terhadap cuaca panas berkepanjangan menjadi alternatif lain yang akan ditanam. “Kami juga meminta pemerintah agar dapat menyuplai air bersih untuk menyemprot tanaman kami,” pinta Jaya. (Abduh)

3222 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*