Lembaga Dakwah PBNU: Hentikan Mencaci-maki Para Tokoh Bangsa

Majalengkatrust.com – Kasus dugaan penistaan agama yang sedang ramai di tanah air membawa para tokoh bangsa ikut turut andil memberikan sikap dan pernyataan. Kasus dugaan penistaan agama ini menjadi berbuntut  panjang yang berujung aksi besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat muslim di bawah pimpinan FPI Habib Riziek Sihab pada 4 November 2016 kemarin.

Menurut rencana akan ada aksi lanjutan pada 2 Desember 2016 dan 25 Desember mendatang. Pro kontra pendapat pun terjadi karena perbedaan pendapat maupun pilihan politik yang berbeda membuat suhu semakin memanas.

Dampaknya malah masyarakat dipertontonkan dengan kasat mata bertebarannya cacian, hujatan, pem-bully-an bahkan ancaman terhadap beberapa tokoh bangsa.

Dunia maya semakin gaduh dengan adanya sikap-sikap tak terpuji dan ujaran kebencian dari para pendukung ditangkapnya Ahok.

Menurut Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU), KH. Maman Imanulhaq mengatakan kegaduhan sosial media dianggap sudah kelewat batas.

“Setelah kita menyaksikan para tokoh bangsa dan ulama kharismatik ikut dicaci maki, setelah beliau-beliau memberikan pernyataan yang sebenarnya bersifat menyejukkan dengan bersandar pada nilai-nilai ajaran agama. Namun apa lacur, nasehat-nasehat menyejukkan dan teduh dari Buya Syafii Ma’arif dan KH A Mustofa Bisri alias Gus Mus ini justru berbuah hinaan, cacian, hujatan hingga ancaman,” jelasnya.

Padahal, menurutnya beliau-beliau menyampaikan pesan dan nilai-nilai yang sebenarnya merupakan substansi dan intisari dari ajaran agama, bukan bermaksud membela Ahok. Selain ulama besar, kata Maman beliau-beliau ini adalah tokoh bangsa yang mestinya harus dihormati.

“Saya kira ini sudah pelanggaran berat, bahkan merupakan penistaan terhadap ulama dan tokoh bangsa. Siapapun yang sudah menghina dan mencaci maki ulama dan tokoh bangsa, harus dihentikan dan diusut tuntas,” tegas Maman Imanulhaq.

Menurut, Kyai Maman bahwa Buya Syafii Ma’arif secara tegas apa yang disampaikan oleh Ahok di Kepulauan Seribu sama sekali tidak ada unsur penistaan agama.

Hal ini sontak menuai kritik berbagai pihak, karena berbeda dengan pendapat masyarakat pada umumnya. Menurut mereka, Ahok telah secara nyata melakukan penistaan agama dan polisi pun sudah menetapkan sebagai tersangka.

“Terlepas soal perbedaan cara pandang dalam melihat kasus ini, cacian dan makian serta hilangnya rasa hormat terhadap ulama dan tokoh bangsa jelas sangat menciderai nilai-nilai keadaban sebagai bangsa besar yang seharusnya menempatkan para ulama dan tokoh tersebut sebagai guru bangsa,” tambah Kyai Muda yang juga anggota Komisi VIII DPR RI tersebut.

Ditambahkannya, dia mengaku prihatin dengan semakin tidak beradabnya sebagian dari para peselancar social media, Ulama kharismatik Gus Mus juga mengingatkan agar semua bisa bersikap adil dalam menilai dan menghakimi setiap perbuatan seseorang, termasuk Ahok sekalipun.

Gus Mus, kata Maman menyatakan kalau sampai terjadi aksi lanjutan dan kemudian mereka melakukan shalat Jum’at di jalan raya, ini merupakan bid’ah besar. Karena ibadah mahdlah yang sangat sakral tersebut sudah dijadikan sebagai instrument politik dan politisasi agama secara membabi buta demi meluapkan sebuah amarah.

“Pernyataan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, inipun berbuah cacian dan makian serta hinaan yang memenuhi unsur ujaran kebencian (hate speech). Lalu, pertanyaannya sekarang, dimana akhlaq para penebar kebencian dan penista ulama ini? Sungguh sangat tidak beradab perilaku mereka ini yang terus-terusan menghujat para ulama dan tokoh bangsa,” ujar Maman.

KH Maman Imanulhaq sungguh sangat menyayangkan tindakan-tindakan yang dilakukan masyarakat pengguna sosial media yang tidak bijak dan dewasa dalam memanfaatkan media sosial.

Kiyai Maman juga menghimbau kepada masyarakat agar segera menghentikan tindakan yang berupa caci maki dan hinaan terhadap para tokoh bangsa.

“Sungguh sangat memilukan para tokoh bangsa kita, yang keilmuannya jauh dengan kita bisa dengan mudahnya dihina dan dicaci maki  seenaknya oleh masyarakat di sosial media karena berbeda pendapat,”tegasnya.

Menurut Kiyai Maman, sosial media harus disikapi secara arif dan bijaksana agar keberadaanya benar-benar dijadikan sebagai media informasi dan komunikasi yang efektif serta bermanfaat untuk kemaslahatan manusia (al maslahatul ‘ammah).

“Akhir-akhir ini social media banyak disalahgunakan untuk membully, menghujat, menghina, mencaci dan menebar berbagai bentuk ujaran kebencian yang sudah melampaui batas, ini sudah harus segera dihentikan,” pungkas Kyai Maman. (Abduh)

1152 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*