Majalengka Miliki Gua Peninggalan Jepang yang Masih Belum Dikembangkan

MAJALENGKA (CT) – Peninggalan sejarah Kabupaten Majalengka, sedikit demi sedikit mulai terkuak, seperti Gua Jepang yang berada di samping Markas Kodim 0617 Majalengka di Kelurahan Tonjong, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka kini mulai banyak dikunjungi sejumlah anak sekolah yang ingin mengetahui keberadaan gua tersebut.

Malah di seberang gua di bawah pohon mangga juga banyak anak yang menikmati rindangnya pepohonan, mereka duduk di batu-batu besar  sambil membawa buku pelajaran sekolahnya, sebagian diantaranya nampak menghapal membuka buku-buku pelajaran di sekolahnya untuk menghadapi Ujian Nasional yang akan berlangsung Senin (11/04).

“Menghapal karena di sini enak dingin,” kata Mita siswi SMPN 2 Majalengka, Minggu (10/04)

Sedangkan di sejumlah pintu gua jepang, beberapa anak melakukan selfie dan foto bersama dengan sejumlah temannya.

Surya, Irpan, Ardel dan Dedi siswa sebuah SMU mengaku belakangan ini hampir setiap saat bermain ke Gua Jepang bersama sejumlah teman lainnya. Terkadang mereka membawa temannya yang belum mengetahui keberadaan gua.

“Sekarang guanya bersih jadi mulai banyak yang bermain melihat-lihat ke dalam. Di bagian dalam gua juga sekarang betul-betul bersih sehingga bisa main dan berfoto. Dulu banyak tikus dan sampah,” ungkap Surya yang mengaku  sudah beberapa kali datang ke gua karena kebetulan rumahnya berada di Cicenang.

Mereka mulai mengetahui keberadaan gua dari beberapa temannya dan orang tuanya yang menjelaskan, kalau dulu di gua tersebut menjadi markas dan tempat persembunyian tentara Jepang, selain itu gua tersebut juga dipergunakan untuk menyimpan peralatan persenjataan milik Jepang.

Ari siswa lainnya mengaku datang ke Gua Jepang diajak beberapa temannya yang sudah lebih dulu mengetahuinya. Sebelumnya dia tidak mengetahui kalau di pinggir sungai tersebut terdapat gua apalagi sejarah dari gua tersebut.

“Saya hanya  mengatahui ada pintu serta lubang, dan sebelumnya tidak pernah penasaran dengan keberadaan lubang-lubang sebesar pintu tersebut.,” kata Ari.

Berdasarkan informasi gua tersebut dibangun pada tahun 1942. Disana terdapat empat gua yang masing-masing gua berukuran kurang lebih 5 X 5 meteran, seluruh guabagian lantainya diplur semen dengan sangat tebal, demikian juga bagian dinding dan bagian atas langit-langit ruangan.

Setiap dua gua, dibagian tengah antar gua ada pintu penghubung yang pintunya terbuat dari plat besi dengan ukuran lebar sekitar 1,5 m dan tinggi 2 meteran hampir menyamai ketinggian dalam gua itu sendiri.

Setiap pintu gua juga menggunakan plat besi yang cukup tebal berukuran kurang lebih 1,80 m dengan tinggi 1,80 cm. Pintu dan kunci gembok hingga kini nampak masih sangat kokoh demikian juga dengan kontruksi bangunan didalam gua.

Belakangan gua tersebut mulai terpelihara kembali, dibagian setiap pembatas, atau antar pintu gua ke pintu gua yang lain  telah dibersihkan, tidak ada lagi rumput ataupun ilalang. Pintu masuk ke setiap gua nampak terlihat jelas meski dari kejauhan. Pengunjungpun bisa masuk dengan nyaman dan aman tidak takut lagi harus terganggu ular atau kalajengking seperti sebelumnya.

Menurut keterangan Dandim 0617 Majalengka Let Kol Inf Priandy Budi Purnawan, gua tersebut secara rutin dibersihkan dan dipelihara agar bisa dikunjungi banyak orang, serta lebih banyak dikenal. Alasannya

gua tersebut adalah salah satu peninggalan sejarah di Indonesia yang harus tetap terpelihara, dan diketahui masyarakat banyak.

Gua tersebut menurutnya adalah salah satu gua Jepang yang ada di Indonesia selain di Bandung, Garut, Jawa Barat, di Biak, Papua, Kupang, Nusatengara Timur, Jawa Timur, Bali, di Bukit Tinggi  dan sejumlah wilayah lainnya.

Gua Jepang tersebut dibuat sebagai tempat pertahanan, persembunyian, perlindungan dan juga tempat penyimpanan senjata serta penyimpanan logistik seperti bahan makanan, obat-obatan serta alat komunikasi semasa Perang Dunia ke II. Malah ada ruang yang dijadikan tempat perawatan orang sakit dan ruang rapat bagi para perwira kala itu.

“Gua Jepang ini adalah salah satu peninggalan sejarah yang harus tetap dipelihara, bahkan disejumlah daerah sudah menjadi tempat wisata dan ternyata memang banyak dikunjungi wisatawan karena lokasinya dipelihara dengan baik,” ungkap Priandy. (Abduh)

2004 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*