Menjaga Kemuliaan, Warga Jatiwangi Gelar Ritual Bakar Tanah

MAJALENGKA (CT) – Berkaca pada kasus terbunuhnya, Salim Kancil betul-betul dijadikan pelajaran berharga oleh warga Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Sebagai refleksi dan peringatan keras, agar kasus serupa yang dipicu oleh persoalan tanah tidak terulang lagi, warga menggelar Ritual atau tradisi bakar berjamaah.

Mengambil tempat di pelataran Pabrik Genteng HMP Putra Burujul Wetan-Jatiwangi, ratusan warga terlibat acara yang dikemas cukup sederhana namun mendapatkan perhatian semua unsur Muspika Kecamatan Jatiwangi.

Menurut Beben, dari Jatiwangi Art Factory (JAF) sebagai penggagas kegiatan, tahun 2015 bagi Jatiwangi merupakan tahun tanah, karena bertepatan dengan 110 tahun Kebudayaan Tanah, terhitung sejak tahun 1905 awal, mula warga Jatiwangi mengolah tanah.

“Dalam ritual Bakar Berjamaah, warga dari berbagai lapisan dan strata sosial membuat beragam alat musik dan perlengkapan rumah tangga dari tanah untuk kemudian dibakar bersama-sama di lokasi ini,” jelas Beben kepada CT, Senin (12/10).

Tradisi ini, menurut Beben merupakan bentuk rasa syukur warga Jatiwangi atas anugerah dari Allah SWT, berupa wilayah dengan kondisi tanah yang sangat baik, termasuk sebagai bahan dasar genteng.

Sebagaimana diketahui Jatiwangi sendiri adalah daerah sentral di mana pabrik-pabrik genteng berdiri yang pada masa tertentu mengalami era keemasan.

Di tempat yang sama KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Ponpes Al-Mizan, Ritual Bakar Berjamaah adalah bentuk penghormatan atau pemuliaan terhadap tanah agar tanah dihargai dan diperlakukan semestinya.

“Menghargai tanah itu dengan tidak mengeksploitasinya dan menjaga tanah dari kerusakan atau pencemaran lingkungan”, ungkap Kyai Maman dalam pidatonya.

Menurut Politisi PKB itu kasus Salim Kancil merupakan pelajaran besar di mana eksploitasi terhadap tanah yang mengabaikan keseimbangan alam bukan hanya berdampak buruk pada lingkungan, tapi memicu konflik sosial yang berujung pertumpahan darah.

“Melalui penghayatan kembali kita terhadap nilai tanah, itu berarti kita telah menjaga kehidupan untuk masa yang akan datang”, Jelas Anggota Komisi 8 itu yang didaulat menjadi imam dalam ritual tersebut.

Adapun rangkaian ritual Bakar Berjamaah sendiri dimulai dengan warga yang tampak menyetorkan beragam alat musik dan peralatan rumah tangga dari tanah hasil kreasi masing-masing. Lalu terdengar suara tiupan suling tanah sebagai tanda imam naik ke mimbar untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Setelah beragam benda dari tanah dimasukkan ke dalam tungku api, ritual ditutup dengan menyalakan api sebagai simbol bakar berjamaah. (Abduh)

2271 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*