Monumen Sindangkasih Majalengka Penuh Coretan, Apa Makna Kemerdekaan?

MAJALENGKA (CT) – Menjelang momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70 pada 17 Agustus mendatang, bagi masyarakat Majalengka sungguh ironi, karena seolah melupakan dan tidak tahu perjuangan pahlawan Majalengka dalam mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda.

Sebagian besar masyarakat Majalengka hanya mengenal KH Abdul Halim sebagai pahlawan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai pahlawan nasional. Namun sesungguhnya banyak pahlawan lainnya yang telah berkorban jiwa raga dalam mempertahankan kemerdekaan seperti Tubagus Rangin, Emen Slamet, Suha, Affandi dan lainnya.

Ironisnya warga Majalengka bahkan banyak yang tidak mengetahui adanya peristiwa heroik yang diabadikan dalam Monumen Perjuangan Pasukan Sindangkasih yang dibangun secara megah di jalan raya Cigasong-Maja tepatnya di tanjakan Kawungluwuk Desa Kawunghilir Kecamatan Cigasong Kabupaten Majalengka.

“Saya bahkan tidak tahu itu monumen apa, walau sering lihat kalau lewat, kurang jelas dilihat dari jalan raya karena tertimbun pepohonan,” ungkap Sarifudin seorang warga Majalengka, Sabtu (15/08).

Hal senada dikatakan Ahmad Hidayat warga Talaga Kabupaten Majalengka yang mengatakan tidak tahu mengenai Monumen Perjuangan Pasukan Sindangkasih. “Saya sejak SMA di pusat kota Majalengka hampir setiap hari lewat Monumen ini, namun tidak tahu itu monumen apa, karena guru sejarah di sekolah pun tidak pernah cerita,” ungkap Hidayat yang mengaku mahasiswa di salah satu PTN di Bandung ini.

Pantauan CT di sekitar Monumen Perjuangan Pasukan Sindangkasih nampak kurang terawat bahkan di beberapa sudut berserakan bekas botol minuman dan makanan ringan bahkan yang lebih parah menemukan botol bekas minuman keras, kemudian di badan Monumen terdapat tulisan Vandalisme dengan kata-kata jorok menggunakan cat pilok oleh tangan tidak bertanggungjawab.

“Saya dengar dari warga setempat, Monumen malah sering dijadikan tempat pacaran dan anak-anak muda nongkrong tidak jelas,” ungkap Hidayat.

Di badan Monumen sendiri tertulis prasasti “Tanggal 17 November 1987 telah diresmikan Monumen Perjuangan Pasukan Sindangkasih (KI.IV BAT.I Brig XIII Divisi IV Siliwangi) yang melambangkan kepahlawanan perjuangan Pasukan Sindangkasih selama Gerilya Perang Kemerdekaan sampai Perang Kemerdekaan II Juli 1947 sampai dengan Desember 1949 di daerah Majalengka dan sekitarnya.

Dalam prasasti tersebut ditanda-tangani atas nama Warga Pasukan Sindangkasih oleh Ketua Pembina Kolonel Inf (Purn) H. Djohari Cherman Effendi. Sementara Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad Nina Lubis dalam buku “Sejarah Majalengka” yang diterbitkan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia (YMSI) terbitan tahun 2012 mengatakan pertempuran di daerah Kawungluwuk Desa Kawunghilir di sekitar monumen Sindangkasih sekarang merupakan perlawanan rakyat Majalengka terhadap pasukan Belanda.

Ditulis Nina Lubis, setelah menguasai Majalengka, Pasukan Belanda melakukan operasi militer pada tahun 1947 ke seluruh pelosok Majalengka termasuk wilayah Talaga, Ketika satu regu pasukan Belanda sedang patroli ke daerah Kawungluwuk desa Kawunghilir, Pasukan Abdul Gani dan Affandi (Kepala BKR Majalengka) melakukan penghadangan sehingga terjadilah pertempuran sengit di tempat yang sekarang dibangun Monumen Perjuangan Pasukan Sindangkasih.

Kini nama pemimpin pertempuran tersebut Abdul Gani dijadikan nama jalan di pusat kota Majalengka tepat di belakang pendopo Kantor Bupati Majalengka menggantikan nama Jalan Sukarame, namun entah dengan Affandi Kepala tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang legendaris karena kegigihannya melawan penjajah juga Legendaris karena mitos warga Majalengka dan sekitarnya Affandi kebal terhadap peluru dan senjata tajam kini nama tersebut tidak terdengar lagi. (Abduh)

13221 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*