Pedagang Pasar Ciborelang Keluhkan Harga Kios Baru Mahal

MAJALENGKA (CT) – Sejumlah pedagang di Pasar Ciborelang, Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka mengeluhkan harga kios baru yang dijual pemerintah desa pasca renovasi terlalu tinggi, sehingga sulit dijangkau oleh pedagang.

Mereka berharap Pemerintah Desa bersedia menurunkan harga kios agar tidak terlalu membebani pedagang serta pedagang lama bisa berjualan kembali.

Menurut keterangan sejumlah pedagang di Pasar Ciborelang, Pemerintah Desa saat ini berencana melakukan pembangunan pasar terkait Hak Guna Bangunan telah habis sejak dua tahun yang lalu, serta kondisi pasar sudah usang.

Namun dalam proses pembangunannya pihak Pemerintah Desa langsung menunjuk pihak ketiga yangmenetapkan harga jual kios dengan harga yang dianggap sangat mahal. Untuk harga toko dengan ukuran 3 x 4 m dipatok seharga Rp 162.000.000, untuk harga kios Rp. 144.000.000 dan harga los Rp. 39.000.000 serta emprakan Rp 9.500.000.

Persoalannya kini banyak pedagang yang mengeluh karena tidak memiliki uang untuk membeli kios tersebut sementara mereka butuh kios untuk melanjutkan usahanya.

“Harga tersebut tidak sebanding dengan pendapatan kami setiap hari berjualan. Karena di Pasar Ciborelang ini pasarnya hanya terjadi hingga pukul 09.00 WIB dan hari pasar yang jatuh setiap ari Rabu hanya ramai hingga pukul 11.00 WIB setelah itu sepi kembali,” ungkap Emoh seoang pedagang pakaian kepada CT, Minggu (06/12).

Kini menurutnya banyak pedagang lama yang tidak bisa membayar kios baru meski harus dicicil. Karena uang muka yang harus dibayarpun masih dianggap terlalu tinggi. Menurut Eko, Galih, Asep dan Udin uang muka dan tanda jadi yang harus segera dibayar oleh pedagang mencapai Rp 33.000.000.

“Karena kami tidak memiliki uang untuk membayar uang muka dan tanda jadi, maka kami harus meminjam ke bank. Bila demikian maka kedepan kami harus mencicil dua kali mencicil dalams ebulan yakni membayar bekas uang muka dan mencicil kios hal ini sangat memberatkan kami. Makanya kami ingin harga kios diturunkan,” kata Eko.

Cucum pedagang pakaian jadi mengaku tidak akan mengambil kios meski dirinya sudah puluhan tahun berjualan pakaian di sana, alasannya cicilan harga kios dan uang muka tidak akan mampu dibayarnya.

“ Sekarang jualan hanya seminggu sekali, omset dagangan saya dalam seminggu hanya Rp 500.000 hingga Rp 700.000 kotor karena belum dikurangi modal dan bayar retribusi serta makan saat berjualan. Dengan omset penjualan yang hanya ratusan ribu seminggu mana mungkin bisa mencicil kios yang harganya ratusan juta. Makanya saya memilih tidak membeli,” kata Cucum.

Hal yang sama juga disampaikan Galih pedagang nasi yang mengaku terpaksa tidak akan berjualan di apsar karena tidak sanggup mencicil kios dan membayar uang muka.

Para pedagang mengaku sudah berulang kali meminta kuwu untuk menurunkan harga kios bahkan mereka berdemo namun tidak ada tanggapan apapun.

Kuwu Ciborelang Abdul Toyib saat hendak dimintai konfirmasi tidak berada di kantor, saat akan dihubungi melalui sambungan telpon tidak seorangpun staf di desa yang mengaku memiliki nomor telpon kuwunya.

Kaur Pemerintahan Yoyo mengatakan nomor telpon kuwu banyak sehingga tidak mengetahui yang mana yang aktif. Namun dia mengatakan apa yang dikeluhkan pedagang bukan persoalan harga kios melainkan ada indikasi lain.

“Persoalan pasar ini politis, para Pedagang ini inginnya menghentikan kuwu bukan persoalan penurunan harga kios,” kata Yoyo.

Yoyo mengatakan Rabu pekan depan para pedagang pasar Ciborelang akan direlokasi dan 200 pedagang lama akan didahulukan. (Abduh)

2598 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*