Pemdes Lemahputih Majalengka Keluhkan Hutan Gunung Cakrabuana Gundul

Majalengkatrust.com – Kepala Desa Lemahputih, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Asep Setia Permana mengeluhkan gundulnya lereng Gunung Cakrabuana akibat pembabatan hutan yang terus menerus hingga tidak mengindahkan konservasi alam.

“Hutan yang dibabat sebagia besar beralih fungsi menjadi perkebunan kapol, labu, dan tanaman holtikultura lainnya yang  tidak bisa menyerap air,”ungkap Asep, Senin (21/11).

Menurut dia, pembabatan hutan besar-besaran yang beralih fungsi ini berada di kawasan hutan milik Perhutani yang sebagian besar diantaranya berada di wilayah perbatasan dengan Sumedang. Namun aliran air dari pegunungan tersebut mengalir ke sungai Cikabeet yang airnya mengalir ke Desa Lemahputih, Majalengka.

“Hulu sungai Cikabeet  berada di wilayah Sumedang, namun alirannya kemudian ke wilayah Desa Lemahputih. Sungai Cikabeet ini kemudian bermuara ke Sungai Cilutung,” jelas dia.

“Pembabatan hutan yang cukup luas ini demikian cepat, para pekerja penebang kayu semua sangat ahli, gergaji kayu juga nyaris tak mengeluarkan suara ketika menebang pohon yang cukup besar hanya butuh waktu beberapa menit saja,” tambah Asep.

Yang jadi persoalan menurutnya pembabatan hutan ini sekarang sudah hampir mencapai puncak Gunung Cakrabuana, daerah-daerah yang semula menjadi sumber mata air kini benar-benar gundul karena pohon pinus, suren, rasamala yang sebagian pohonnya telah mencapai diameter 50 hingga 60 cm, carik angin, puspa lilin, harashas  yang  mampu yang mampu menahan air kini habis dibabat dan berganti tanaman dengan tanaman holtikulturan yang petaninya berasal dari luar daerah seperti Garut, Tasik, Sumedang dan ada seorang petani ada yang menanam hingga belasan hektare.

Kini menurut Asep nyaris tidak ada mata air yang mengalir ke wilayah Desa Lemahputih dan Lemahsugih, Lecamatan Lemahsugih, karena lembah-lembah yang biasanya terdapat mata air kini hilang. Padahal dulu di wilayahnya tidak pernah kesulitan air bersih, karena banyak mata air yang bsia dialirkan.

Yang disayangkan menurutnya adalah para petani yang bercocok tanam tersebut seluruhnya berasal dari luar daeran, tidak ada warga Lemahputih atau Cimungkal yang bertani di sana. Padahal biasanya pola pengelolaan lahan Perhutani dilakukan lewat PHBM (Penanaman Hutan Bersama Masyarakat). (Abduh)

1644 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*