Penderita Penyakit Pneumonia Butuh Bantuan Pemerintah

MAJALENGKA (CT) – Sungguh malang nasib seorang buruh pasca dipecat dari pekerjaannya, Sarita (49) warga Desa Kedungsari, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka pasrah, dengan penyakit paru-paru basah (Pneumonia) yang dideritanya, karena tidak mempunyai jaminan kesehatan seperti Jamkesmas apalagi BPJS.

“Jangankan Jamkesmas atau BPJS, ngurus KTP sementara saja sudah setahun tidak beres-beres,” ujar Sarita kepada CT, Rabu (02/12).

Sarita mengaku, ia kini tidak lagi mampu mengobati penyakit yang dideritanya karena keterbatasan biaya yang dimiliki. Dia mengungkapkan, dirinya kini tinggal sendiri di rumah familinya yang sudah tidak dipakai lagi, setelah bercerai dengan istrinya karena tidak sanggup membiayai hidup keluarga.

Diapun tidak mau tingal bersama familinya yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah yang ditempatinya dengan alasan rumah adiknya sempit dan keluarganya banyak, serta khawatir penyakitnya menular.

Rumah yang ditempati Sarnita cukup besar 6 X 8 m namun, tidak berpintu, bahkan ruang depannya tidak berdinding sehingga seolah teras rumah. Satu ruang kamar lagi dipergunakan untuk kandang ayam. Lantai rumahnya masih tanah dan berdebu, kamar mandi ikut ke rumah tetangganya. Penerangan mengandalkan familinya satu buah lampu di kamar tidur.

Untuk kebutuhan makan sejaks etahun yang lalu diapun mengandalkan adiknya serta belas kasihan dari warga lain. Dikatakannya, hidup seperti itu sudah berlangsung sejak setahun yang lalu begitu penyakit yang dideritanya cukup parah, karena sebelumnya dia masih bsia bekerja walapun tidak maksimal sehingga bia membiayai hidup sendiri.

“Dulu saya bekerja sebagai buruh di Tangerang, namun kemudian sakit paru-paru sehingga tidak bisa melanjutkan pekerjaan. Istri saya karena tidak dibiayai akhirnya minta cerai, anak satu-satunya dibawa istri saya,” ungkap Sarnita.

Sarnita mengaku sudah berupaya berobat ke Rumah Sakit Paru Sidawangi, di Kuningan namun tak kunjung sembuh padahal dia sudah berulang kali berobat ke sana atas bantuan adiknya.

“Karena tidak juga sembuh sementara adik saya sudah mengeluarkan biaya besar makanya saya pasrah saja dengan penyakit ini,” kata Sarnita.

Sementara itu adik kandung Sarita, Admini (40) mengatakan kini dia menanggung biaya hidup kakaknya. Kakaknya sendiri menurutnya tidak memiliki BPJS ataupun mendapat jatah beras raskin.

“Kakak saya tidak mendapat BPJS, saya juga belum mendapat jamkesmas ataupun BPJS bahkan tidak mendapat jatah beras raskin,” ungkap Admini yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani.

Admini mengaku sudah berupaya mengajak kakaknya tinggal di rumahnya namun tidak bersedia, alasannya tidak ada tempat serta khawatir menularkan penyakit.

“Saya sudah coba ajak kakak saya tinggal serumah, namun dia tetap menolak,” ungkapnya. (Abduh)

1566 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*