Perum Perhutani KPH Majalengka Kembangkan Gedong Gincu

MAJALENGKA (CT) – Perum Perhutani KPH Majalengka kembangkan mangga gedong gincu, di kawasan hutan produktif dan kawasan hutan lindung milik Perhutani yang penanamannya dikerjasamakan dengan masyarakat sekitar hutan.

Direktur Jendral Kehutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ing Hadi Daryanto, DEA disertai Kepala Divisi Regional III Perhutani Jabar Banten, Elan Barlian setidaknya kini sudah ada kurang lebih 2.350 hektare lahan hutan yang sudah ditanami mangga gedong gincu, dan sebagian diantaranya sudah mulai di panen.

“Perhutanipun akan mendorong agar gedong gincu memiliki hak paten asal Majalengka karena gedong gincu asal Majalengka memiliki kekhasan yang lebih unggul,” kata Dirjen Kehutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ing Hadi Daryanto, DEA saat melakukan safari paguyuban LMDH Jabar untuk melakukan identifikasi potensi hutan, Senin (14/12) di LMDH Pancurendang Majalengka sekaligus meninjau perkebunan mangga di kawasan hutan lindung seluas 78 hektare.

Dikatakan Hadi, seluruh kawasan hutan milik Perum Perhutani termasuk kawasan hutan lindung kini pengelolaannya dikerjasamakan dengan Lembaga Masyarakat Daerah Hutan (LMDH) agar membawa dampak kesejahteraan bagi masyarakat sekitar hutan.

“Hanya khusus untuk hutan lindung semua pihak tidak diperbolehkan mengeksploitasi apapun yang ada di hutan tersebut. Yang diperbolehkan hanya mengambil produksi hutan,” jelasnya.

Hadi menambahkan, pihaknya kini akan terus bekerjasama dengan LMDH untuk mengembangkan tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga masyarakat sekitar bisa sejahtera tanpa merusak fungsi hutan itu sendiri. Karena fungsi hutan pada dasarnya adalah untuk konservasi, energi, dan membangun ketersediaan air.

“Makanya untuk kawasan hutan lindung tidak diperbolehkan untuk dieksploitasi, yang dibolehkan hanya ditanami dengan pohon produktif seperti mangga, petai atau durian, sedangkan pohonnya tidak boleh diambil bahkan termasuk tanaman apapun yang tumbuh disana. Sifat kerjasamanyapun hanya jasa lingkungan, out boand dan pengelolaan air,” kata Hadi.

Ia mengungkapkan pola kerjasama ini mengambil filosofi ”leuweung hejo rakyat bisa ngejo” (hutan hijau rakyat bisa makan-red). Malah menurut Hadi, anggota LMDH yang mengelola hutan lindung tidak diperbolehkan untuk memupuk tanaman mangganya dengan pupuk an organik, atapi harus menggunakan pupuk organik.

Sementara itu Bupati Majalengka H. Sutrisno mengatakan sangat mendukung upaya Perum Perhutani mengembangkan buah mangga gedong gincu di wilayah Majalengka.

“Hak paten mangga gedong gincu memang milik Majalengka, bahkan pohon mangga gedong gincu ini tumbuh di pendopo Kabupaten Majalengka dan usianya sudah sangat tua, saya mendukung upaya ini,” jelasnya. (Abduh)

1743 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*