Petani Tanaman Ubi Menuai Hasil Panen Melimpah

MAJALENGKA (CT) – Kendati musim kemarau, Amin (53), petani ubi jalar Desa Simpeureum, Kecamatan Cigasong tetap panen, Minggu (20/09). Hanya saja, hasil panen ubi madu dan ubi Jalar itu tidak maksimal.

“Kalau hujan turun normal, kebun seluas tigaperempat hektare ini bisa menghasilkan 8-9 ton. Tapi karena saat ini kemarau, paling-paling kita dapat 3 ton,” kata Amin kepada CT, Minggu (20/09)

Dikatakan dia, ubi jalar yang dipanen saat ini ditanam awal Mei 2015 lalu. Ketika ditanam, curah hujan masih normal. Namun saat ubi mulai mengumbi, kemarau melanda.

“Makanya, buahnya jadi sedikit. Yang banyak akar yang tidak jadi ubi,” tutur Amin sambil memperlihatkan batang ubi jalar yang lebih banyak akar ketimbang ubinya.

Ubi yang dipanen di kebun itu langsung dibeli pedagang hasil bumi. Hanya saja, harga jual ubi tidak sama. Ubi Jepang ukuran besar seharga Rp 2 ribu  per kilogram dan ubi jalar madu Rp 1.500 per kilogram.

“Jika panen ubi Jepang 1,5 ton maka hasil penjualannya dengan harga Rp 2 ribu per kg mencapai Rp 3 juta, dan 1,5 ton lagi ubi madu yang harga 1.500 per kg maka harga hasil penjualannya Rp 2.250.000. Jadi total penjualan hasil panen 3 ton ubi jalan itu mencapai Rp 5.250.000,” jelas Amin.

Sedangkan biaya produksi mulai dari upah pengolahan lahan, pengadaan bibit hingga upah tanam mencapai Rp 3.500.000. “Jadi, dalam tempo 5 bulan kita hanya mendapatkan keuntungan Rp1.750.000 atau Rp 350.000 per bulan,” tuturnya.

Karena hujan belum turun juga, selepas panen ubi jalar, Amin masih akan membiarkan lahannya kosong. Amin baru akan menggarap lahannya setelah hujan mulai turun normal.

“Rencananya, saya akan menanam ubi lagi jika hujan sudah turun normal,” jelasnya. (Abduh)

2307 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*