Potret Kemiskinan Majalengka, Kakek dan Nenek Ini Tinggal di Bilik Lapuk

MAJALENGKA (CT) – Rumah bilik pasangan suami istri Ijon Jaenudin (52) dan Omi (42) warga Blok Melati RT 04/04, Desa Pasirmalati, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka kondisinya memprihatinkan, sejak dibangun tahun 1988 hingga kini belum pernah tersentuh renovasi.

Karena kemiskinannya dua anaknya yang baru lulus SMP pun terpaksa diikutkan dengan keluarganya untuk mengurangi beban hidup keluarga, satu anak bungsunya masih sekolah dibangku kelas VI SD. Hampir sekeliling dinding rumah telah ditambal menggunakan bilik bekas, karena sudah mulai bolong-bolong akibat dinding bilik aslinya sudah rapuh termakan usia. Ada juga tambalan dinding yang menggunakan kipas bambu. Bagian dalam kamar tidurnya dilapis menggunakan kertas koran mungkin menjaga angin masuk ke dalam.

Bagian atap rumah juga nampak sudah mulai lapuk, beberapa genteng rumah sebagian telah berjatuhan, untuk menghindari banjir saat hujan Ijon menambalnya dengan menggunakan seng bekas yang diperolehnya dari bantuan warga. Bagian depan rumah ditopang dengan kayu kecil menjaga atap bangunan roboh.

Rumah tersebut juga tidak memiliki sumur, sehingga ketika mencuci atau untuk minum penghuni rumah harus mengangkut air dari sumur tetangganya. Menurut keterangan Ijon, rumahnya yang berukuran 9 X 6 meter tersebut adalah warisan kedua orang tuanya, namun sejak dibangun orang tuanya hingga kedua orang tuanya meninggal belum pernah diperbaiki karena ketidak mampuannya.

“Rasanya tidak mungkin harus membangun rumah sendiri untuk makan saja sulit,” ungkap Ijon, Senin (21/09).

Ijon kesehariannya hanya bekerja sebagai buruh tani. Di saat musim tanam dengan upah Rp. 50.000 per hari, istrinya juga bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp. 25.000 hingga Rp. 30.000 per hari. Namun bila musim tanam habis maka otomatis mereka menganggur. Untuk mengisi waktu mereka mencari kayu bakar ke hutan, atau menjadi tukang cuci piring di tempat hajatan.

Di halaman rumahnya nampak tersedia pasir sebanyak beberapa kubik. Pasir tersebut menurut Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Tedi dan tokoh masyarakat Tatang, adalah sisa-sisa bahan bangunan dari warga atau desa dengan harapan suatu saat bisa dimanfaatkan.

Rumah milik Ijon ini menurut Tedi telah beberapa kali diajukan untuk mendapat bantuan rumah tidak layak huni, namun selama tiga tahun terus diajukan hingga kini belum terealisasi. Kalau saja ada bantuan dari pemerintah, seluruh masyarakat setempat siap membantu tenaga hingga rumah benar-benar terwujud.

“Beberapa tahun lalu kami juga sempat membuat jendela rumah bagian depan, karena awalnya tidak ada ventilasi,” katanya. (Abduh)

2595 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*