PWI Kab. Majalengka Kecam Penganiayaan Terhadap Wartawan oleh Oknum TNI AD

Ilustrasi

Majalengkatrust.com – Tindakan kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di tanah air. Kali ini menimpa kontributor NetTV Kota Madiun, Sonny Misdananto.

Menanggapi hal tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka mengecam keras perlakuan oknum TNI AD yang melakukan kekerasan terhadap wartawan, yang tengah melaksanakan kerja-kerja jurnalistik.

Ketua PWI Kabupaten Majalengka Jejep Falahul Alam mengatakan, sikap dan indakan yang dilakukan oknum TNI AD merupakan perbuatan yang mengancam dan mengekang kemerdekaan pers, serta menginjak-injak sendi demokrasi berbangsa dan bernegara. Maka dari itu, PWI Majalengka tidak dapat menolerir adanya penyerangan, penganiyaan dan perampasan alat-alat kerja terhadap wartawan.

“Perlu diketahui kekerasan terhadap wartawan telah melanggar Pasal 18 Undang-undang No 40 Tahun 1999, tentang Menghalang-halangi atau menghambat kerja wartawan. Ancaman hukumannya kurungan selama dua tahun atau denda Rp 500 juta,” kata wartawan H Kabar Cirebon ini.

Menurut dia, ketika wartawan yang sedang bertugas melakukan peliputan itu dilindungi UU No 40 Tahun 1999, pasal 4 dan 6. “Seharusnya ketika wartawan bekerja harus mendapatkan perlindungan dari aparat, bukan tindakan kekerasan. Kalau melakukannya berarti aparat tidak paham tentang undang-undang pers,” kata Jejep dalam siaran pers yang diterima Majalengkatrust.com, Selasa (04/10).

Dia meminta Panglima TNI menindak tegas oknum TNI tersebut. Sebab jika dibiarkan, akan menjadi preseden buruk pada institusi TNI dan pers.
“Seharusnya TNI dan pers harusnya saling sinergi, bukan malah melakukan kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugasnya,” ucapnya.

Dia berharap peristiwa tersebut tidak terjadi di Kabupaten Majalengka. Dia menyerukan agar menghentikan semua tindakan kekerasan terhadap wartawan yang menjalankan tugasnya. Kalau pun ada persoalan dengan pemberitaan , agar ditempuh sesuai dengan mekanisme yang berlaku di pers.

“Kami juga menyerukan kepada teman-teman wartawan senantiasa menegakkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik (KEJ), ketika menjalankan tugas kewartawanan. Termasuk para wartawan diminta mengutamakan keselamatan diri dari berbagai ancaman, tindakan, dan serangan yang membahayakan jiwa dan raga,” katanya.

Hal senada diungkapkan wartawan MNCTV, M.Zeni Johadi. Menurut dia, tindakan kekerasan terhadap pers telah melukai seluruh pers yang ada di tanah air, tak terkecuali di Kabupaten Majalengka.

“Kita berencana akan menggelar aksi damai, mengecam tindakan tersebut. Mengenai waktunya kapan, masih dimusyawarahkan bersama-sama teman wartawan lainnya,” ujarnya.

Menurut dia, wartawan ketika melakukan peliputan itu dilindungi undang-undang pers. Dia berharap kasus pemukulan terhadap wartawan harus menjadi bahan evaluasi bagi TNI, tentang tugas pokok prajurit dalam melindungi dan mengayomi masyarakat.

Zeni juga meminta agar Panglima TNI memberikan hukuman atas tindakan anak buahnya tersebut, yang melakukan kekerasan terhadap wartawan.

“Kasus pemukulan terhadap jurnalis makin sering terjadi. Dan kami menuntut keadilan dan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada oknum TNI, yang melakukan penganiayaan terhadap Soni Misdananto, kontributor Net TV,” ucapnya.

Sebelumnya, Soni Misdananto kontributor NetTV mendapat perlakuan tidak manusiawi oleh anggota TNI AD Yonif 501 Raider Madiun, saat melakukan peliputan. Dalam kejadian pada Minggu (02/10) kemarin, memori card milik Soni dirampas dan dirusak. (Abduh)

2493 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*