Sejarah Bedug Identik dengan Kebudayaan China yang Dibawa Oleh Laksamana Ceng Ho

MAJALENGKA (CT) – Seniman sekaligus artis nasional, Eddy Gombloh mengatakan bahwa bedug dibawa ke Indonesia oleh Laksamana Ceng Ho dari China sekitar abad 18 masehi dan berlabuh di Pelabuhan Banten.

“Bedug itu asalnya dari China, Jepang, Korea dan oleh Laksamana Ceng Ho dibawa ke Indonesia dan menjadi alat penanda waktu shalat,” kata Gombloh dalam konferensi pers dengan wartawan di sela-sela acara Bedug Asyik yang digelar salah satu perusahaan rokok nasional di alun-alun Talaga Majalengka, Sabtu (04/07).

Gombloh mengatakan meski sejarahnya bukan dari tradisi islam namun di Nusantara identik dengan tradisi Islam.

“Bedug di Nusantara menjadi tradisi identik penanda waktu shalat dan menjadi kesenian juga,” jelas Gombloh.

Ia mengatakan akan ada kolaborasi bedug antara seniman yang mengganggap bedug sebagai alat musik dan peserta parade bedug yang menjadikan bedug alat pemanggil waktu shalat.

“Diharapkan ada kolaborasi yang harmoni antara seniman profesional dengan para penabuh bedug di Mesjid,” ungkapnya.

Sementara itu juara Bedug Asyik dari Kelompok Bale Gede Yayan Nuryani dari Desa Sinargalih Kecamatan Lemahsugih, mengatakan sehari-hari kelompoknya merupakan kelompok tani tanaman bakau dan sudah berdiri empat tahun dan sudah menjual bakau sampai Magelang.

“Kami sangat menyambut baik program dari PT Sampoerna Bedug Asyik ini, sebelum ada televisi dan teknologi, panggilan waktu shalat di desa kami masih menggunakan bedug,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan kelompoknya sangat senang diketemukan dan kolaborasi dengan pemain bedug profesional dan seniman senior Eddy Gombloh.

Sementara Ketua Juri Ajat Sudrajat dari Pandeglang mengatakan penilaian lomba parade Bedug terdiri dari kekompakan, kostum, dan atraktif.

“Pola tabuh sebagian peserta masih banyak yang pola dulag, namun ada yang sudah musikal seperti para juara ini,” ungkapnya.

Humas Keraton Kanoman Cepi mengatakan bedug masuk ke keraton sekitar tahun 1873 masehi, dan sempat dipakai mengumpulkan prajurit dan dipakai kesenian dengan seperangkat gamelan di Keraton Kanoman selain sebagai penanda waktu shalat.

“Kalau di Keraton ada tradisi Tetalu menjelang Ramadhan, dan syawalan menjelang Idul Fitri yang menabuh bedug secara rampak, ramai-ramai,” ungkapnya. (Abduh)

1749 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*