Usai Lebaran, Harga Daging di Pasar Tradisional Majalengka Turun

Majalengkatrust.com – H+4 lebaran Idul Fitri 1438 H, harga daging ayam dan sapi mulai berangsur normal setelah pada H-1 semua kebutuhan pokok mengalami lonjakan yang cukup tajam. Pedagang di pasar tradisional pun mulai beraktifitas kembali, namun sebagian masih ada yang libur dengan menutup kios dagangannya.

Menurut keterangan sejumlah pedagang daging, dengan harga yang mulai normal justru omzet penjualan menurun dari hari-hari biasanya, pembeli daging sapi kebanyakan adalah pedagang bakso. Sangat jarang masyarakat umum yang membeli daging sapi.

Sejumlah konsumen lebih memilih sayuran segar untuk menghilangkan kejenuhan dari makanan bersantan setelah lebaran kemarin.

“Sekarang penjualan daging betul-betul lesu, bahkan usus atau jeroan sapi serta tulang tidak laku sama sekali, padahal biasanya diburu pedagang empal dan masyarakat umum yang butuh sumsum tulang. Masyarakat umum kini sangat jarang yang beli, kami kebanyakan melayani pedagang bakso saja,” ungkap Dudung salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Majalengka, Kamis (29/06).

Harga dagingg pun menurutnya mulai berangsur normal, walaupun belum kembali ke harga semula. Saat bulan puasa harga daging sapi untuk pelanggan hanya Rp120 ribu per kilogram dan pembeli umum seharga Rp125 ribu per kilogram. Pada H-1 lebaran harga melonjak Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram. Kini setelah lebaran turun Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram atau menjadi Rp 135 ribu per kilogram.

Demikian halnya dengan harga daging ayam broiler, sebelumnya harga daging ayam sempat mencapai Rp50 ribu per kg, kini turun Rp10 ribu atau menjadi Rp40 ribu. Harga daging ayam kampung yang pada saat menjelang lebaran mencapai Rp100 ribu per kg, kini turun menjadi Rp80 ribu per kg.

Menurut Mimin dan Iding pedagang daging ayam, stok ayam di rumahnya cukup banyak karena semula disediakan untuk menghadapi lebaran, namun nyatanya tidak seluruhnya terjual.

“Sekarang ayam kampung di rumah masih sangat banyak, awalnya kami menyediakan untuk dijual saat lebaran. Harga pembelian pun lumayan mahal, namun kini kami tidak bisa menjual seperti halnya saat menjelang lebaran,” kata Iding.

Sementara itu yang banyak diburu konsumen di pasar tradisional saat ini adalah tempe dan tahu serta sayuran. Kondisi ini diduga karena masyarakat merasa jenuh dengan masakan bersantan dan daging. Harga tempe pun mengalami kenaikan. Satu potong tempe yang biasanya dijual dengan harga Rp4 ribu kini menjadi Rp5 ribu.

Sejumlah ibu rumah tangga ditemui di pasar mengatakan, mereka ke pasar mencari sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang merah, paria dan jenis sayuran lainnya. Alasannya bosan terus menerus makan-makanan santan dan berlemak.

“Saya mencari bayam dan lalapan segar, leunca atau petai. Haya sekarang mencari leunca susah, keliling pasar hanya ada satu kios yang jualan,” ungkap Ani salah seorang pembeli. (Abduh)

1197 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*