Wacana S1 Tidak Wajib Skripsi, Munculkan Kontroversi Bagi Mahasiswa

MAJALENGKA (CT) – Wacana yang dilontarkan pemerintah melalui kementrian riset teknologi dan pendidikan tinggi (Kemenristekdikti) tentang “tidak wajibnya skripsi” bagi mahasiswa S1 mengundang kontroversi.

Ada sebagian mahasiswa yang setuju, cukup “melegakan” bagi sebagian besar mahasiswa mereka. Sementara sebagian mahasiswa lagi memandang tuntutan skripsi begitu berat, ilmiah dan serius.

Seperti dikatakan, Pipit Mahasiswi jurusan Bahasa Inggris sebuah PTS di Majalengka mengatakan setuju dengan dihilangkan skripsi karena merasa kesulitan dalam prosesnya.

Hal tersebut, menurutnya dirasakan terlalu berat terutama untuk mahasiswa fakultas kependidikan, mereka harus menyesuaikan dengan topik yang diajarkan di sekolah.

“Konsultasi dengan dosen sulit, pas proposal sudah siap topik di sekolah sudah lewat. Kita dituntut referensi dari jurnal sementara virtual library tidak disediakan Perguruan Tinggi, belum lagi akses internet juga harus bayar sendiri,” katanya saat ditemui CT, Senin (04/01) di kampusnya di kawasan Majalengka kota.

Sementara itu, Dian Mahasiswa Fakultas Pertanian di PTS yang sama mengatakan sebaliknya, program sarjana itu adalah jenis pendidikan akademik.

“Sehingga selama ini, mahasiswa yang akan lulus, wajib menyusun skripsi. Jangan sampai ketika skripsi tidak wajib lagi, program sarjana malah seperti program vokasi atau Politeknik,” jelasnya.

“Justru di sini tantangannya, kita merasa menjadi mahasiswa sesungguhnya ketika menjalani bimbingan, penelitian dan sidang skripsi. Kalau skripsi ditiadakan rasanya ada yang hilang dan kurang lengkap,” katanya lagi. (Abduh)

1725 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*