Warga Majalengka Resah Ulah Wartawan Bodrex, PWI Imbau Tetap Tenang

MAJALENGKA (CT) – Sejumlah kepala sekolah di Kabupaten Majalengka mengeluhkan keberadaan wartawan mundar-mandir tanpa berita (Muntaber) atau lebih populer dengan wartawan Bodrex yang datang ke sekolahnya. Kehadiran oknum jurnalis itu kerap menebar teror dan mencari-cari kesalahan sekaligus membawa beragam modus seperti berjualan beragam bentuk barang dengan cara memaksa.

Persoalan itu mengemuka dalam acara sosialisasi peran pers dalam pembangunan yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Majalengka dengan para peserta kepala sekolah se-Kecamatan Ligung bertempat di SDN Wanasalam II Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, Selasa (06/10).

Kepala Sekolah SDN Wanasalam II, Wiratna menjelaskan, hampir setiap harinya pihaknya kerap didatangi wartawan dengan cara berkelompok ke sekolahnya. Mereka itu datang ke sekolah kebanyakan kurang sopan dan langsung memeriksa seluruh isi maupun bangunan sekolah. Sikap dan tindak tanduknya seperti aparat penegak hukum yang tengah melakukan penyelidikan kasus.

“Ketika hadir itu mereka langsung berkata kurang sopan dan mencari-cari kesalahan kami. Padahal persoalan yang dipertanyakan itu tidak nyambung dan ujung-ujungnya oknum wartawan itu minta uang bensin,” ujarnya.

Bukan hanya itu, lanjut dia, saat ini jumlah media cetak di sekolahnya jumlahnya sangat banyak. Akibatnya dari semua itu berdampak pada langganan koran yang memerlukan biaya besar. “Kalau korannya itu datang seminggu atau sebulan sekali. Tapi berita-beritanya itu kebanyakan dari luar Jawa Barat, padahal kami mengingkan berita seputar Majalengka,” jelasnya.

Penegasan serupa disampaikan Kepala Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Ligung, Saefudin. Menurut dia, kedatangan para oknum wartawan selain menakut-nakuti juga kerap membawa barang jualan seperti kalender, taplak meja, buku dan mereka terkadang memaksa agar dibeli pihak sekolah.

“Kalau misal kami tidak mau, mereka mengancam kami akan mengekspos berita kejelekan sekolahnya. Melihat realitas kami terkadang panik dan harus bagaimana menghadapinya,”tuturnya.

Salah seorang narasumber dari PWI, Jejep Falahul Alam menjelaskan fenomena kasus oknum wartawan menakut-nakuti para kepala sekolah, guru, kepala desa maupun pejabat lainnya barang baru. Kasus seperti ini hampir terjadi di seluruh negeri ini.

Namun kendati demikian, para guru maupun kepala sekolah jangan takut menghadapi oknum wartawan bila menghadapi masalah tersebut. “Kalau datang wartawan ke sekolah tipsnya, kita dari sekolah bersikap sopan santun. Setelah itu tanya mengenai maksud dan tujuaanya, tanya dari media mana,” katanya.

Setelah itu, lanjut wartawan Kabar Cirebon ini, jangan takut menghadapi wartawan kalau memang kita tidak bersalah dan jangan menghindar dari wartawan. “Kalau ada wartawan hadapi, jangan bersembunyi apalagi lari. Karena kalau demikian akan menimbulkan banyak presepsi negatif ke sekolah itu,” tuturnya.

Bukan hanya itu, para guru juga harus menguasai persoalan yang dihadapi dan bersahabat dengan wartawan profesional dan berhubungan dengan aparat penegak hukum. “Perlu ditegaskan kembali tugas wartawan itu mencari, mengumpulkan dan menulis berita, bukan meminta atau mengintimidasi. Hal itu seperti tertuang dalam UU Pers Nomor 40 tahun 1999, Kode etik Jurnalistik,” jelasnya.

Disamping itu, bila oknum wartawan itu tetap melakukan pemerasan atau melakukan perbuatan tidak menyenangkan ketika kunjungan ke sekolah mereka bisa terancam pasal 369 KUHP tentang pemerasan dan Pasal 282 tentang perbuatan tidak menyenangkan. “Tapi untuk membuktikan itu minimalnya kita harus memiliki dua alat bukti, untuk menjerat pasal tersebut, jadi jangan sampai sebatas lisan,” tuturnya.

Ketua PWI Perwakilan Majalengka Tati Purnawati menambahkan, kehadiran pengurus dan anggota PWI ke sekolah ini, dalam rangka memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai keresahan sekolah yang kerap diteror oknum wartawan. “Mudah-mudahan dengan adanya penjelasan semacam ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, bahwasanya profesi apapun tidak ada yang kebal hukum, termasuk itu wartawan,” tuturnya.

Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Ligung, Ikrom Basuni mengaku berbahagi dengan adanya pertemuan antara para kepala sekolah dan wartawan profesional yang tergabung dalam PWI. “Alhamdulillah sekarang kami sudah tahu dan jelas bagaimana menghadapi oknum wartawan. Mudah-mudahan kedepan para wartawan di Majalengka dalam menjalankan tugas dan fungsinya tetap mengedapankan kode etik jurnalistik dan UU Pers,” ucapnya. (Abduh)

2070 Views

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

*